Just another WordPress.com site

NGELANTUR BUKAN TIDUR

Aku lahir , aku hadir dalam dunia ini seorang diri, dan akhirnya akupun akan meninggalkan dunia ini seorang diri. Bukanku menampik akan kehadiran semua orang yang hadir dalam hidupku, atau durhaka kepada Ibu yang mengandung dan melahirkanku, namun itulah esensi.

Ya, aku tahu dan aku  mengerti istilah unconscious atau ketidaksadaran, di mana dalam ilmu yang aku dalami, seseorang tidak menyadari akan penyebab dari perilakunya saat ini. Psikodinamika, dengan metode psikoanalisis. Demikian secara garis besar. Namun menurutku, ada kesalahan di sini.

Tiada bermaksud untuk menentang atau menantang teori pendahulu yang mendahului menuju perbedaan dimensi tentunya, namun ini pemikiran saya. Tanpa ternoda oleh bisikan-bisikan pemikiran lainnya. Kemurnian. Ini suatu yang patut aku banggakan, karena alangkah langkanya hal tersebut!

Tak perlu mengikuti arus kemunafikan, hanya karena dirimu takut dan dengan gemetar berkata hitam diantara sejuta orang yang dengan lantang berteriak putih.

Kembali pada psikodinamika,  suatu pandanganku mengatakan bahwa kemunafikan telah ada semenjak manusia pertama diciptakan. Mengapa demikian? Perlu Anda renungkan…

BAB I

PENDAHULUAN

Review Hakikat Inteligensi

Untuk masyarakat awam, istilah IQ seringkali disamakan sebagai singkatan dari inteligensi. Hal ini merupakan miskonsepsi yang terlanjur populer, sehingga perlu ditinjau kembali konotasi umum dari konstruk ”inteligensi”. IQ tidaklah sama dengan inteligensi. Arnorld Buss menyebutkan bahwa inteligensi dapat dipandang sebagai temperamen. Suatu kecenderungan tingkah laku ”quasi-biologis” (seolah-olah tingkah laku biologis), pada hakekatnya bersifat konstitusional, yang merupakan tanda untuk membedakan individu satu dengan individu lainnya.

Namun beberapa ahli psikologi menyatakan bahwa temperamen hanyalah merupakan tingkah laku emosional; hal inilah yang membatasi inteligensi sebagai temperamen. Buss memberikan pendekatan yang lebih luas yaitu bahwa inteligensi dipandang merupakan sebagian dari kepribadian, sedangkan temperamen dipandang sebagai penentu perbedaan individu.

Dari sudut bawaan (nature), pada awal kehidupan seorang individu dipandang hanya memiliki inteligensi umum, tidak berbeda-beda dan bersifat plastis (luwes). Setelah terjadi interaksi dengan lingkungan, inteligensi individu menjadi berbeda-beda. Piaget membuka rahasia tentang proses diferensiasi, dimana dalam proses diferensiasi ini penggunaan bahasa memainkan peran penting.

Setelah individu tumbuh menjadi anak yang matang, ia dikatakan menguasai (mastery) tugas-tugas yang berkaitan dengan proses diferensiasi untuk membedakan. Selanjutnya, tumbuh rasa ingin tahu (curiousity) untuk menguasai pengetahuan di segala bidang sehingga individu mulai dapat menspesialisasikan berbagai hal.

Sekalipun demikian, inteligensi individu yang digeneralisasikan sebelumnya merupakan bagian dari individualitasnya. Kita masih dapat membedakan orang dewasa yang satu dengan orang dewasa lainnya atas dasar inteligensi umumnya.

1.1 Definisi Inteligensi

Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai: “Intelligence is the aggregate or global capacity of the individual to act purposefully, to think rationally and to deal effectively with this environment”. Artinya : Inteligensi merupakan suatu agregat atau kapasitas global dari individu untuk dapat bertingkah laku secara terarah, berpikir secara rasional, serta berhubungan secara efektif dengan lingkungannya.

Dari pengertian di atas, dapat dijelaskan bahwa:

Ø  Inteligensi bersifat global, karena inteligensi mencirikan tingkah laku individu sebagai keseluruhan.

Ø  Inteligensi merupakan sebuah akumulasi (aggregate), karena komposisinya terbentuk dari elemen-elemen kecakapan, yang meskipun tidak sepenuhnya berdiri sendiri tetapi secara kualitatif dapat dibedakan satu dari yang lainnya. Agregat disamakan dengan pembangkit, diesel. Wechler menyamakan inteligensi dengan listrik, sebab kita tidak dapat melihat listrik secara langsung. Tiga unsur utama yang dapat diihat dari listrik adalah efek magnetisnya, efek thermisnya, dan efek kimiawinya. Sama halnya seperti inteligensi. Dengan mengukur kecakapan-kecakapan yang tampak dari tingkah laku seseorang, maka kita akan dapat mengukur inteligensi seseorang. Kita dapat membedakan apakah tingkah laku seseorang termasuk inteligen atau tidak.

Ø  Meskipun kecakapan-kecakapan ini termasuk dalam inteligensi, namun inteligensi tidak sama dengan sekedar penjumlahan dari kecakapan-kecakapan ini. Artinya, inteligensi bukan sekedar jumlah total dari kecakapan-kecakapan ini, tapi bersifat melebur/inklusif

 

1.2 Arti IQ

Gambaran tingkat kemampuan individu pada saat tertentu yang berkaitan dengan norma usia tertentu. Tes-tes inteligensi bukan untuk melabelkan individu,namun untuk membantu memahami individu tersebut. IQ adalah cerminan dari prestasi pendidikan sebelumnya dan sarana prediksi kinerja pendidikan selanjutnya.

 

Penelitian Terman dan Oden (1925-1954)menemukan bahwa inteligensi yang tinggi memiliki hubungan dengan perkembangan fisik awal, beberapa subjek berada di atas rata-rata dalam hal karakteristik fisiknya, termasuk tinggi, berat dan kesehatannya. Terman dan Oden menemukan bahwa subjek mereka menjadi dapat menyesuaikan diri dengan baik, lebih populer, dan biasanya menjadi pemimpin daripada anak-anak yang memiliki kemampuan rata-rata.

Individu-individu ini juga mendapatkan penghargaan dengan tingkat yang lebih tinggi daripada teman-temannya. Setelah dewasa mereka penuh dengan kesuksesan, memperoleh banyak uang, lebih banyak menduduki jabatan manajerial, dan lebih banyak berperan memberikan sumbangan dengan menciptakan berbagai literatur dan ilmu pengetahuan daripada orang dewasa lainnya. Pada umumnya skor tes inteligensi memiliki korelasi yang tinggi dengan prestasi akademik di sekolah.

Dengan demikian dapat dijadikan prediksi (ramalan) terhadap kesuksesan skolastik. Walaupun kita mengetahui bahwa sejumlah variabel non skolastik juga mempengaruhi ke kesuksesan skolastik, namun tidak ada faktor prediktif seperti inteligensi. Faktor-faktor non skolastik tersebut antara lain adalah motivasi, faktor kepribadian, kesehatan fisik, minat, cita-cita, dan sebagainya.

1.3  Heritabilitas dan Modifiabilitas

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dlm menginterpretasikan pengaruh hereditas:

ü  Data empiris dalam kesamaan2 familial tunduk pada distorsi karena pengaruh faktor2 lingkungan yangg tidak diperhitungkan.

ü  Indeks2 heritabilitas merujuk pada populasi, dimana heritabilitas tersebut ditemukan pada waktunya.

ü  Heritabilitas tidak menunjukkan derajat modifiabilitas sifat.

 

IQ dapat dipengaruhi oleh intervensi lingkungan. Menurut tokoh penganut empirisme, menunjukkan bahwa lingkungan yang memperkaya dan memotivasi anak, memengaruhi perubahan skor IQ.

Perubahan-perubahan besar dalam struktur keluarga, kenaikan/penurunan yang tajam pada pendapatan finansial, adopsi ke dalam rmh asuhan mempengaruhi peningkatan/penurunan IQ. Pada dasarnya, isu nature (hereditas)-nurture (lingkungan) memberikan sumber-sumber perkembangan individu. Jadi, faktor hereditas dan lingkungan selalu ada dlm perkembangan perilaku individu.

 

1.4 Motivasi dan Inteligensi

Dalam menginterpretasikan skor-skor tes, kepribadian dan kemampuan tak dapat dipisahkan terus menerus. Kinerja seseorang pada tes bakat dan juga kinerjanya di sekolah, di pekerjaan, atau dalam konteks lainnya dipengaruhi oleh dorongan berprestasi, ketekunan, sistem nilai, kebebasannya dari masalah-masalah emosional yang mengganggu, dan hal-hal lain yang secara tradisional dimasukkan dalam konteks “kepribadian”.  Minat, sikap dan konsep diri individu sebagai pembelajar mempengaruhi keterbukaannya pada tugas belajar, hasrat belajarnya, perhatian yang ia berikan pada guru, dan waktu yang digunakan untuk tugas itu.

Ada bukti bahwa reaksi-reaksi individual terkait secara signifikan dengan prestasi dalam pendidikannya (Baron, 1982; Dreger, 1968; J.McV. Hunt, 1981). Pada tingkat yang lebih dasar, ada semakin banyak konsensus bahwa bakat tak bisa lagi diteliti secara mandiri terhadap variabel-variabel afektif (Anastasi, 1985b, 1994).

Berbagai macam studi dilakukan, didapat bukti bahwa perkembangan intelektual seseorang dapat diperbaiki dengan memadukan informasi tentang motivasi dan sikap dengan skor tes bakat.

1.5 Teori-teori Inteligensi

 

1.5.1        Teori Uni-Faktor dari William Stern

Pada tahun 1911, William Sern memperkenalkan teori uni-faktor tentang inteligensi. Teori ini merupakan teori kapasitas umum atau teori kecakapan umum (general capacity-theory). Ide Stern ini berkembang di luar pemikiran Binet. Akan tetapi setidaknya Stern juga sangat menghargai pendekatan Binet dalam mengkonstruksi analisa perbandingan IQ.

Ciri inteligensi yang tidak berbentuk menunjukkan bahwa tidak akan pernah ada dua individu yang memiliki ukuran yang sama. Hal ini memiliki implikasi bahwa tidak pernah ada seseorang yang berpikir, bertindak dan memecahkan masalah persis sama dengan cara orang lain.

Pada pandangan Stern, jumlah G (kapasitas umum) yang dimiliki individu dapat diarahkan ke banyak aktivitas. Kapasitas umum (G) dalam jumlah yang kita miliki secara natural dapat memecahkan multi problem.

 

1.5.2        Teori Dua-Faktor dari Spearman

Dalam teori Spearman, orang berbeda karena tingkat faktor umum dan karena faktor-faktor khusus yang terlibat dalam suatu tugas sehingga seseorang dapat memiliki inteligensi yang lebih daripada orang lain. Hal ini mungkin disebabkan karena seseorang tinggi di bidang g dan rendah di bidang s.

Apabila diikhtisarkan, teori Spearman tentang teori perbedaan individual adalah sebagai berikut:

1.      Orang memiliki jumlah g (kapasitas general) yang berbeda.

2. Dalam diri seseorang, jumlah faktor-faktor s berbeda.

3. Orang memiliki perbedaan jumlah dan jenis faktor g dan s.

Spearman tidak memberikan nama tertentu terhadap faktor g dan faktor-faktor s ini. Ia hanya menyebutkan bahwa faktor g adalah energi mental umum yang dimiliki individu. Sedangkan faktor s merupakan pola syaraf atau mesin yang bekerja melalui faktor g.

 

1.5.3        Teori Multi-Faktor dari Thorndike

Thorndike beranggapan bahwa inteIigensi kita berisi multiproses khusus. Ia tidak memberikan nama terhadap multi proses khusus ini, tetapi ia menjelaskan bahwa proses itu adalah neurologis. Aktivitas mental merupakan jumlah yang tidak tentu dan merupakan kombinasi hubungan syaraf yang tidak terhingga jumlahnya. Bagi Thorndike, faktor g (kemampuan general) itu tidak ada. Yang ada hanyalah ke-kompleksan tingkah-laku mental spesifik.

 

1.5.4        Teori Kemampuan Primer dari Thurstone

Thurstone mengadakan analisa faktor yang berkaitan dengan inteligensi. Thurnstone (1983) yang tidak sepakat dengan teori Spearman telah menyelenggarakan 56 tes dengan hasil tidak ada faktor inteligensi umum. Thurstone mengambil kesimpulan bahwa tidak ada faktor umum dalam inteligensi.  Inteligensi adalah sejumlah kemampuan mental yang bersifat primer. Penelitiannya menunjukkan bahwa kemampuan mental dapat dikelompokkan menjadi 7 faktor.

Inteligensi dapat diukur dengan mengambil sample ‘performance’ atau penampilan/prestasi individu melalui 7 bidang:

1. kemampuan di bidang angka, yaitu kecepatan dan ketepatan dalam perhitungan aritmatika sederhana.

2. kemampuan dalam kelancaran kata, yaitu kecepatan menyebutkan kata-kata dalam kategori tertentu, misalnya menyebutkan nama makanan yang dimulai dengan huruf s.

3. kemampuan dalam ingatan asosiatif, yaitu keterampilan dalam tugas-tugas yang menuntut ingatan, misalnya belajar mengasosiasikan pasangan item-item yang tidak berhubungan

4. kemampuan dalam penalaran induktif, yaitu kemampuan menemukan hukum-hukum.

5. kemampuan dalam penguasaan ruang, yaitu memvisualisasikan bagaimana objek tiga dimensi dapat tampak jika dirotasikan atau dipecah-pecahkan.

6. kemampuan dalam pemahaman verbal, yaitu kemampuan dalam jumlah kosa kata, pemahaman bacaan, dan analogi verbal.

7. kemampuan dalam kecepatan perceptual, yaitu kemampuan dalam tugas-tugas klerikal sederhana, seperti memeriksa kesamaan dan perbedaan detail visual.

 

 

1.5.5        Teori Model Inteligensi dari Guilford

Salah satu teori inteligensi multifaktor telah dikemukakan oleh Guilford (1959). Kemudian terus direvisi sampai tahun 1988. Ia menggunakan teknik “analisis faktor” statistik untuk mengembangkan model berbentuk kubus yang ia sebut sebagai model “struktur intelek” atau dalam bahasa Inggris disebut Structure of Intellect (SOI). Ia membuat hipotesis untuk mengklasifikasikan komposisi sistem kemampuan intelektual menurut “tiga dimensi”.

Sistem kemampuan intelek tersebut terdiri atas :

1. Material atau isi yang diproses

2. Proses atau operasi dari material

3. Bentuk atau produk informasi yang telah diproses

 

 

BAB II

ISI

2.1 Analisis Jurnal Tesis Umum (Review)

Jurnal tesis peneliti yang berjudul “ Hubungan Inteligensi, Status Gizi Dengan Prestasi Belajar Siswa SLTP “ merupakan studi kasus dengan rancangan penelitian bersifat belah lintang.  Yang belum dicantumkan dalam jurnal tesis peneliti yakni metode belah lintang disini lebih dikenal dengan istilah croos sectional yaitu penelitian dimana variabel atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur dalam waktu yang bersamaan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan inteligensi, status gizi dengan prestasi belajar siswa. Dengan latar belakang yang telah tercantum pada jurnal tesis, inteligensi diyakini mempunyai sumbangan besar pada individu dalam melakukan aktivitasnya, khususnya dalam bidang penelitian dan pengajaran.

Dalam jurnal tesis peneliti, penulis memperoleh rumusan masalah sebagai berikut :

1.      Adakah hubungan inteligensi, status gizi dengan prestasi belajar siswa SLTP ?

Dan terdapat tujuan penelitian antara lain :

1.      Mengetahui hubungan inteligensi dengan prestasi belajar siswa SLTP.

2.      Mengetahui hubungan status gizi dengan prestasi belajar siswa SLTP.

3.      Mengetahui hubungan antara inteligensi dan status gizi secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa SLTP.

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian di atas, peneliti membuat hipotesis :

 

 

ü  Hipotesis Null (Ho)

Ho1 : Tidak terdapat hubungan antara inteligensi dengan prestasi belajar siswa SLTP

Ho2 : Tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa SLTP

Ho3 : Tidak terdapat hubungan antara inteligensi dan status gizi terhadap prestasi belajar siswa SLTP

ü  Hipotesis Alternatif (Ha)

Ha1 : Terdapat hubungan antara inteligensi dengan prestasi belajar siswa SLTP

Ha2 : Terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa SLTP

Ha3 : Terdapat hubungan antara inteligensi dan status gizi terhadap prestasi belajar siswa SLTP

Manfaat penelitian yang tersurat dalam jurnal tesis peneliti adalah memberikan masukan bagi penelitian lebih lanjut (bidang penelitian), sebagai sarana bagi tenaga medis maupun sector yang terkait dalam pelayanan kesehatan siswa di sekolah (bidang pelayanan kesehatan), dan menambah wawasan serta pengetahuan tentang hubungan inteligensi, status gizi dengan prestasi belajar pada siswa SLTP terutama untuk para pendidik dan orang tua siswa (bidang pendidikan/ilmu pengetahuan).

Dalam metode penelitian, (jenis penelitian studi belah lintang) menghabiskan waktu penelitian selama tiga bulan yang berlokasi di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Kotamadia Semarang, yang ditentukan secara random sampling dan diperoleh sampel yakni dari SLTP Negeri II dan SLTP Negeri XIV . Populasinya adalah siswa kelas II yang terdapat pada sampel yang telah ditentukan. Besar sampel yang dibutuhkan dalam penelitian tersebut didapat dengan menggunakan rumus tes hipotesis rasio odds.

Pada penelitian ini sampel disaring kembali menggunakan beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti, yakni meliputi kriteria inklusi (siswa kelas II SLTP yang masuk sekolah pada saat penelitian dilakukan serta tidak menderita gangguan pengelihatan dan pendengaran) dan kriteria eksklusi (siswa yang menderita sakit saat penelitian dilakukan, siswa kelas II SLTP yang berumur lebih dari 16 tahun dan mengalami anemia).

Dengan menggunakan cara pengumpulan data yang telah dijelaskan dalam jurnal tesis tersebut, peneliti melakukan identifikasi terhadap variabel-variabel penelitian, antara lain : variabel pengaruh/variabel bebas (IV) yakni inteligensi dan status gizi, variabel terpengaruh/variabel tergantung (DV) yakni prestasi belajat serta variabel pengganggu yakni lingkungan belajar.

Kemudian peneliti melakukan pengolahan dan analisa data (pengujian statistik) untuk mengetahui karakteristik responden dan hubungannya antara beberapa variabel. Peneliti juga menerapkan etika dalam penelitiannya meliputi informed consent, kepentingan siswa diutamakan, ijin peneltitian,dll.

 

2.2 Analisis Jurnal Tesis Spesifik (Pembahasan Penulis)

Karena pada pembahasan kali ini penulis mengaitkan dengan materi inteligensi itu sendiri, maka akan dilakukan pembahasan materi-materi pada jurnal tesis peneliti yang terkait dengaan inteligensi disertakan sedikit tambahan bahasan lainnya.

Bahasan langsung tertuju pada tinjauan pustaka peneliti, yakni bahasan mengenai inteligensi (bagian instrumental) dimana dalam jurnal tesis dijelaskan mengenai arti dari inteligensi itu sendiri (pengertian inteligensi), perkembangan inteligensi meliputi irama perkembangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi, serta macam-macam tes inteligensi meliputi tes inteligensi untuk individu dan kelompok.

 

Yang perlu diperhatikan adalah dari segi pemaparan itu sendiri dimana nanti pada hasil akhirnya yang dimaksud sebagai inteligensi oleh peneliti ternyata adalah intelligence quotient (IQ) maka perlu adanya definisi operasional dari IQ sendiri,tidak hanya terkait pembahasan inteligensi secara umum, karena variabel yang diuji sendiri dipandang kabur oleh penulis yang seharusnya penjelasan dari IQ sendiri sangat penting untuk dicantumkan mengingat IQ mengambil peranan utama dalam jurnal tesis peneliti.

Mengenai perkembangan inteligensi (irama perkembangan inteligensi) peneliti menjelaskan bahwa inteligensi mengalami perkembangan yang pesat pada usia-usia tertentu saja. Pada usia tertentu akan tampak puncak perkembangan dan cenderung menetap kemudian akan mengalami penurunan setelah menginjak usia tertentu. Pada bagian ini seharusnya peneliti menerangkan lebih spesifik dari konsep “usia tertentu” itu sendiri, kemudian dikaitkan dengan usia subjek penelitian yang digunakan pada penelitian tersebut. Penting juga disertakan mengenai perkembangan inteligensi (terutama IQ) pada remaja mengingat subjeknya berada pada kategori usia remaja.

Dari segi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi, perlu adanya penjelasan mengenai perkembangan IQ itu sendiri (bukan semata-mata konsep inteligensi saja) kemudian tambahan mengenai sejauh mana IQ berperan jika dibandingkan dengan faktor lainnya (EQ dan SQ) . Kemudian pemaparan lebih komperhensif mengenai pelatihan,disertasi contoh-contoh, lalu analisis lingkungan sebagai faktor yang mempengaruhinya. Faktor lingkungan di sini kurang jelas ruang lingkupnya sehingga penulis menilai akan cenderung bias hasilnya bila pemaparannya kurang nampak batas-batas kejelasan mengenai konsep yang akan dikupas oleh peneliti.

Mengenai penilaian status gizi yang dilakukan pengukuran dengan pengambilan status gizi ditinjau dari IMT patut dipertanyakan kembali, mengingat pencantuman faktor lain yakni anemia yang hanya dilakukan perawatan bagi subjek penelitian yang terkena anemia selama 3 bulan.

Tanpa adanya pemeriksaan kembali pada subjek penelitian yang lainnya di mana rentangan waktu tersebut dinilai penulis cukup panjang untuk memberi perubahan terhadap status gizi yang dimaksud peneliti. Penggunaan IMT juga dirasa penulis kurang tepat dalam hal ini, akan cenderung terjadi bias penelitian.

Hal yang sangat perlu diperhatikan yakni kerangka teori itu sendiri. Pada mulanya peneliti membahas mengenai inteligensi (secara umum) tanpa pembahasan spesifik dari segi IQ itu sendiri yang nantinya merupakan variabel yang dimaksud peneliti untuk melihat korelasinya dengan prestasi belajar, ditambah lagi pemunculan unsur-unsur baru yang dapat menimbulkan ambiguitas, dapat dilihat pada bagian kecerdasan (pada kerangka teori) yang dicantumkan yakni IQ, EQ, SQ di mana bahasan tersebut sangat tidak komperhensif dengan bahasan awal peneliti. Pengujian dan pembahasan keterkaitan antara IQ, EQ dan SQ itu sendiri tidak dibahas oleh peneliti. Sangat ambigu dimana pemaparan awal intelligensi berubah menjadi IQ yang diuji (tanpa pembahasan lebih spesifik) yang kemudian dimunculkan EQ dan SQ yang tidak mendapat bahasan dalam jurnal tesis peneliti.

Kemudian ditinjau dari definisi operasional, penetapan variabel pengaruh, terpengaruh dan variabel pengganggu. Kemudian dari penilaian mengenai prestasi belajar itu sendiri (variabel terpengaruh) yang ditinjau dari hasil pendidikan berupa angka-angka dalam rapor. Nilai rapor itu sendiri perlu dipertanyakan validitasnya, mengingat kemungkinan adanya faktor-faktor lain seperti faktor kecurangan dalam memperoleh nilai, faktor keadaan kesehatan pada saat catur wulan pertama dan kedua yang bukannya tidak mungkin untuk mengubah prestasi belajar siswa secara signifikan dalam perkembangan prestasinya, mengingat subjek berada dalam kategori remaja, perubahan signifikan disini sangat mungkin terjadi dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya.

Kemudian ditinjau dari lingkungan belajar siswa, di mana dalam penelitian ini merupakan variabel pengganggu. Skor juga dinilai dari variabel ini (berdasarkan hasil penelitian) , hal ini juga dapat menimbulkan bias. Bias dari faktor jawaban yang diperoleh dari subjek penelitian serta bias dari faktor konsep lingkungan belajar itu sendiri dengan pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa.

Dalam lingkungan belajar yang tidak dibahas secara detail oleh peneliti, penulis menganalisis bahwa setiap individu itu sendiri (dalam hal ini subjek penelitian) memiliki respon yang berbeda terhadap stimulus-stimulus dari situasi dan kondisi dari lingkungan. Penulis menengarai bahwa individu tertentu akan tepat (cocok) bila menggunakan cara belajar,teknik belajar,tempat belajar,waktu belajar,dsb (variabel lingkungan belajar dalam jurnal tesis di tabelkan pada table 1.1 yakni distribusi lingkungan belajar murid) dengan salah satu tipe akan dapat berkembang secara optimal prestasi belajarnya dan akan berbeda tipe dengan individu lainnya.

Maksud penulis disini adalah jika seorang siswa cocok menerapkan variabel-variabel lingkungan belajar dalam kategori A, belum tentu akan cocok atau akan mampu mengembangkan potensi siswa lainnya dalam memaksimalkan prestasi belajarnya. Maka dari itu penarikan kesimpulan atas skor ini cenderung bias. Maka sangat wajarlah bila akhirnya terjadi bias dalam penelitian ini. Penulis melakukan perubahan konsep garis besar dari jurnal tesis peneliti (bagan terlampir).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kritik Penulis Terhadap Jurnal Tesis Peneliti

Penggunaan kata inteligensi pada judul jurnal tesis peneliti dirasa penulis kurang tepat ditinjau dari penalaran yakni dimulai dari bagian awal meliputi latar belakang, pendahuluan, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis dan bagian-bagian lainnya, mengingat bahwa pada kesimpulan dicantumkan penggantian makna inteligensi menjadi IQ yang dimaksud oleh peneliti, sebaiknya diberi penjelasan dari bagian terdahulu. Hal ini untuk mengantisipasi bertambahnya kesalahan persepsi pada konsep inteligensi dengan konsep IQ. Seperti yang telah dijelasakan pada bagian review materi, istilah IQ seringkali disamakan sebagai singkatan dari inteligensi. Hal ini merupakan miskonsepsi yang terlanjur populer, sehingga perlu ditinjau kembali konotasi umum dari konstruk ”inteligensi”. IQ tidaklah sama dengan inteligensi.

Kaitannya dengan bagian tinjauan pustaka (BAB II) yakni dari definisi operasional dari inteligensi itu sendiri terlalu sempit dipaparkan, kurang adanya penjelasan mengenai perspektif peneliti terhadap variabel inteligensi yang akan diteliti. Diperlukan definisi yang lebih terperinci disertai penggololngan dari inteligensi itu sendiri guna memberikan informasi yang sesuai dan tepat.

Perlu adanya penelitian terhadap faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar,pengujian signifikansi fator-faktor tersebut (korelasinya) kemudian diakumulasikan hingga mendekati taraf total 100%. Selain itu dilihat dari sampel penelitian yang dapat ditinjau lebih umum (tidak hanya 2 sekolah saja), dari berbagai lokasi (misalnya dalam pembagian wilayah kota-desa , daratan rendah-daratan tinggi,dsb.) sehingga lebih dapat digeneralisasikan dan juga dapat dianalisis lebih dalam mengenai perbandingan pembagian tersebut, serta diperoleh suatu kesimpulan baru,pernyataan baru yang akan menimbulkan minat lebih dari peneliti-peneliti lain yang akan lebih termotivasi untuk mengkaji lagi seluk beluk antara faktor-faktor yang berhubungan dengan prestasi belajar.

Hal tersebut tentunya akan menghasilkan pemikiran-pemikiran baru bahkan melahirkan teori-teori baru yang akan sangat bermanfaat bagi berbagai bidang yang telah disebutkan.

Perlu adanya penarikan garis besar seperti yang telah dijelaskan pada bagian analisa (pembahasan penulis). Kemudian pengulangan jenis variabel lingkungan belajar yang dilakukan dua kali (teknik belajar) memacu bias itu sendiri. Sangat banyak faktor-faktor penyebab bias yang ditemukan oleh penulis dari jurnal tesis peneliti, sehingga perlu adanya penelitian perbaikan/lanjutan sebagai antisipasi atas bias penelitian ini.

3.2 Saran Penulis Terhadap Jurnal Tesis Peneliti

Disarankan penggunaan sampling yang tepat sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan, yakni dengan pengambilan sample yang lebih representative. Kemudian lebih adanya tinjauan kembali mengenai tinjauan pustaka dikaitkan dengan aspek-aspek yang akan diuji di dalam penelitian. Perlu adanya pendalaman mengenai variabel-variabel yang digunakan dan ditetapkan. Analisi lebih dalam diperlukan serta antisipasi pengaruh juga validitas sehingga hasil penelitian tidak bias berulang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Review Projective Techniques

Pada dasarnya terdapat dua macam jenis tes dalam psikologi. Kedua tes tersebut yaitu tes mengungkap aspek kognitif dan aspek kepribadian. Tes kepribadian itu sendiri dibagi menjadi dua bagian yakni tes objektif dan proyektif. Dalam tes-tes kepribadian dengan pendekatan proyektif, individu memberikan respon pada stimulus yang tidak terstruktur dan ambigu, dimana hal ini berbeda dengan tes objektif yang memuat beberapa pertanyaan berstruktur. Sehingga diharapkan dengan menggunakan tes proyektif, individu secara tidak sadar akan mengungkap dan menggambarkan struktur dan dinamika kepribadiannya.

1.1 Pelopor Tes Proyektif

Dalam tes proyektif, eksternalisasi aspek-aspek psikis terutama aspek-aspek ketidaksadaran ke dalam suatu stimulasi/rangsang yang kurang atau tidak berstruktur yang sifatnya ambigious agar dapat memancing berbagai alternatif jawaban tanpa dibatasi oleh apapun. Pelopor tes proyektif adalah bermula dari konsep proyeksi : Freud (1894) Istilah proyeksi pertama dikemukakan oleh Freud pada awal tahun 1894 dalam tulisannya “The Anxiety Neurosis” yang mengatakan bahwa “jiwa manusia memiliki potensi untuk mengembangkan kecemasan yang neurotis disaat dirinya merasa tidak mampu mengatasi rangsangan2 atau gairah seksualnya. Tahun 1896  dlm tulsannya Freud “On The Defense Neuropsychosis” menyampaikan bahwa mengenai konsep proyeksi. Scr eksplisit Freud mengatakan bahwa proyeksi merupakan proses pelampiasan keluar dorongan2, perasaan2, dan sentimen2 yang ada pada diri individu ke orla/dunia luar sbg proses yg sifatnya defensif dan individu tdk menyadari fenomena yang terjadi pd dirinya ini. Konsep proyeksi Freud serupa dgn konsep kompensasi dari Adler, yaitu prinsip inferioritas dan kompensasi). Sejak lahir manusia memiliki kelemahan, namun manusia tidak putus asa dengan cara melakukan kompensasi untuk menutupi kelemahan2nya. Bentuk kompensasi Adler ini sama dengan proyeksi. Dari pengertian Freud,Healy,Bronner & Brouer dapat dikatakan bahwa proyeksi merupakan salah satu bentuk MEKANISME PERTAHANAN DIRI. Konsep Proyeksi Freud lebih banyak dipakai pd bidang2 klinis. Oleh karna itu dlm menganalisis perilaku proyeksi biasanya mengarah pd hal2 yg bersifat klinis atau abnormal.  Kemudian berkembang tes proyektif untuk mengungkap kepribadian: Herman Rorschach pada tahun 1921 (Tes Rorschach), Murray pada tahun 1935 (Tes TAT), dst.

1.2 Klasifikasi dan Ciri-Ciri Teknik Proyektif

Klasifikasi Teknik Proyektif antara lain sebagai berikut :

Ø  ASSOCIATIVE TECHNIQUES : Subjek menjawab stimulus dengan perkataan, image, atau ide-ide yang pertama kali muncul. Ex : Rorschach Inkblots, Word Association.

Ø  CONSTRUCTION PROCEDURES : Subjek mengkonstruk atau membuat suatu produk (cerita). Ex : TAT, MAPS (Make a picture story).

Ø  COMPLETION TASKS : Melengkapi kalimat atau cerita. Ex : SSCT, Rosenzweig Picture-Frustation Study.

Ø  CHOICE OR ORDERING DEVICES : Mengatur kembali gambar, mencatat referensi atau semacamnya. Ex : Szondi Test, Tomkins-Horn Picture Arrangement Test.

Ø  EXPRESSIVE METHODS : Gambar, cara / metode dalam  menyelesaikan sesuatu dievaluasi. Ex : BAUM, HTP, DAP

Sedangkan ciri-cirinya adalah Stimulus tidak berstruktur,menggunakan proses proyeksi, administrasi longgar, testee oriented, unsur subjektifitas dalam interpretasi, dan  menyentuh bawah sadar artinya stimulusnya tidak terstruktur, memungkinkan subjek mempunyai alternatif pilihan jawaban yang banyak.  Stimulusnya ambiguous atau kabur, memungkinkan subjek merspon stimulus tersebut sesuai dengan interpretasinya masing-masing. Stimulusnya kurang mempunyai obyektiftas relatif, memunculkan inddifferences dari masing-masing subjek.  Global approach,menuntut kesimpulan yang luas.

 

1.3 Kelebihan dan Kekurangan Tes Proyektif

Ø  Kelebihan Tes Proyektif

  • Dapat mengungkap hal-hal di bawah sadar untuk keperluan klinis
  • Dapat menurunkan ketegangan
  • Bersifat ekonomis

Ø  Kekurangan Tes Proyektif

  • Validitas dan reliabilitasnya rendah
  • Tester harus memiliki keterampilan yang khusus untuk dapat menggunakan tes ini dalam kaitannya dengan ketepatan melakukan diagnosa

 

1.4 Jenis Tes Proyektif

Teknik proyektif yang banyak dikenal dan digunakan secara luas oleh ahli psikologi lainnya yaitu tes Rorschach, Thematic Apprtception Test (TAT), Children’s Apperception Test (CAT), tes Draw-A-Person (DAP), tes Make-A-Picture Story (MAPS), Michigan Pic ture Story Test, dan Sentence Completion Test.

a.       Thematic Apperception Test (TAT) : dikenal sebagai teknik interpretasi gambar karena menggunakan rangkaian standar provokatif berupa gambar yang ambigu dan subjek yang harus menceritakan sebuah cerita  dari gambar yang tertera. Subjek diminta untuk mengatakan sebagai sebuah cerita yang dramatis.

b.      CAT (Children’s Apperception Test) : bentuk lain dari TAT adalah CAT (Children’s Apperception Test), yang digunakan untuk anak-anak. CAT menampilkan sepuluh gambar binatang dalam konteks sosial manusia seperti memainkan game atau tidur di tempat tidur. Pada saat ini, versi ini dikenal sebagai CAT atau CAT-A (gambar binatang).

c.       Michigan Picture Story Test (MPST) : Tes ini hampir sama dengan kedua tes diatas dan terdiri dari material yang menggambarkan anak-anak dalam hubungannya dengan orang tua, polisi, dan figur otoriter lainnya, juga teman-teman. Tes ini sangat bemanfaat dalam melihat struktur dari sikap anak-anak terhadap orang dewasa dan teman-teman sekaligus mengevaluasi masalah yang mungkin timbul.

d.      Make-A-Picture Story (MAPS) : Tes ini juga hampir sama dengan MPST dalam interpretasi dan tujuan yang memiliki. Perbedaannya, individu boleh memilih karakter yang ada untuk membuat sebuah cerita berdasarkan situasi yang ada.

e.       Figure Drawing : dalam tes ini, kemampuan menggambar bukanlah faktor utama. Salah satu bentuk tesnya adalah Draw-A-Person (DAP), dimana individu diminta untuk menggambar seorang lelaki dan perempuan menggunakan pensil dan kertas.

f.       Incomplete Sentence Test : dalam metode proyektif ini, terdiri dari sejumlah kalimat tidak lengkap yang disajikan untuk dilengkapi.

Biasanya bukan merupakan tes standar dan tidak diperlakukan secara kuantitatif. Penting sebagai bahan pertimbangan dalam situasi klinis yang memiliki asumsi bahwa respon individu terhadap stimulus yang ambigu merupakan proyeksi dari hal-hal yang ada dalam ketidaksadaran. Respon yang diberikan subjek dapat memberikan gambaran area konflik, termasuk juga kelebihan dan kekurangan dari kepribadian subjek.

g.      Competency Screening Test : diberikan kepada individu yang menjadi terdakwa untuk mempelajari interscorer kehandalan dan validitas prediktif tentang status mental atau inteligensi individu terkait dengan kasus individu yang sedang terjadi. Tes juga secara signifikan membedakan antara individu yang dikategorikan oleh praktisi sebagai tidak berkompetensi secara mental dan yang dikategorikan sebagai kompeten dalam sidang kasus yang dijalani.

h.      The Rorschach Test : The Rorschach Test juga dikenal sebagai tes inkblot Rorschach atau sekadar tes Inkblot adalah sebuah tes psikologi di mana subjek mempersepsi sebuah bentuk gambar tinta yang dicatat dan kemudian dianalisis dengan menggunakan interpretasi psikologis. Beberapa psikolog menggunakan tes ini untuk memeriksa kepribadian seseorang baik karakteristik maupun fungsi emosional. Telah digunakan untuk mendeteksi gangguan pikiran yang mendasari individu, terutama dalam kasus-kasus di mana pasien tidak mau untuk menggambarkan proses berpikir mereka secara terbuka. Tes ini mengambil nama dari penciptanya yaitu Hermann Rorschach. Selain tes-tes yang disebutkan masih terdapat berbagai jenis tes lainnya.

BAB II

ISI

2.1 Analisis Jurnal Umum (Review)

Jurnal peneliti yang berjudul “ Hubungan Antara Hasil Tes Rorschach dengan Tes Pauli dalam Menggali Aspek Emosi Dari Kepribadian “ merupakan studi korelasional. Peneliti bertujuan untuk mendapatkan data mengenai hubungan antara data yang didapat dari tes Rorschach dan tes Pauli pada aspek emosi seorang individu. Di mana aspek emosi dalam tes Rorschach diindikasikan dengan jumlah respon warna dan respon gerak. Respon warna merupakan penggambaran respon yang diberikan individu terhadap stimulus emosi dari lingkungan. Respon gerak merupakan penggambaran kemampuan meregulasi dan mengarahkan emosi dan dorongan yang dikaitkan dengan nilai-nilai sosial. Sementara tes Pauli menggali aspek-aspek psikologis individu selama bekerja terutama aspek motivasi dan emosi. Dalam tes Pauli, aspek emosi menjadi salah satu faktor yang mewarnai sikap kerja seseorang dalam konteks kerja serta dapat dilihat mengenai pengendalian perasaan dan suasana hati selama bekerja.

Dalam jurnal peneliti, penulis memperoleh rumusan masalah sebagai berikut :

1.      Apakah sebenarnya ada hubungan antara aspek emosi yang tergali dari hasil tes Rorschach dengan yang tergali dari hasil tes Pauli ?

2.      Jika memang ada hubungan, apakah hubungan itu signifikan? Atau saling bertentangan?

Berdasarkan rumusan masalah di atas, peneliti melakukan tinjauan pustaka mengenai tes Rorschach dan tes Pauli khususnya aspek emosi yang tergali dari kedua tes tersebut.

Dalam metode penelitian perihal sampel penelitian, peneliti menggunakan data sekunder yakni mahasiswa volunteer di Bandung yang bersedia mengikuti pemeriksaan psikologis. Jumlah sampel penelitian adalah 300 orang yang dipilih secara acak dengan pertimbangan kelayakan dan kelengkapan data. Alat ukur yang digunakan adalah tes Rorschach dan tes Pauli di mana dari tes Rorschach, data yang diambil adalah skor yang berhubungan dengan warna (C) sedangkan data yang diambil dari tes Pauli adalah nilai simpangan total yang dinyatakan dalam bentuk persentase. Pengolahan data secara statisik yakni untuk mengukur nilai hubungan antara data yang dibandingkan mencakup signifikan tidaknya hubungan yang ada dinyatakan dalam nilai koefisien,

Dengan hipotesis penelitian dalam jurnal yakni : “Indikator penilaian aspek emosi pada tes Rorschach (dilihat dari jumlah respon yang mengandung warna dan gerakan) berkolerasi dengan indikator penilaian aspek emosi pada tes Pauli (dilihat dari besarnya nilai simpangan)“ . Penulis menjabarkan hipotesa dari rumusan masalah untuk memudahkan menganalisis hipotesis penelitian yang telah tersurat pada jurnal,sebagai berikut :

ü  Hipotesis Mayor

Ho : Tidak ada hubungan antara aspek emosi yang tergali dari hasil tes Rorschach dengan yang tergali dari hasil tes Pauli.

Ha : Ada hubungan antara aspek emosi yang tergali dari hasil tes Rorschach dengan yang tergali dari hasil tes Pauli.

ü  Hipotesis Minor

Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara aspek emosi yang tergali dari hasil tes Rorschach dengan yang tergali dari hasil tes Pauli (saling bertentangan).

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara aspek emosi yang tergali dari hasil tes Rorschach dengan yang tergali dari hasil tes Pauli (tidak saling bertentangan).

Keseluruhan nilai korelasi dihitung dan diinterpretasikan berdasarkan signifikasi korelasi Spearman 2 arah yang dilanjutkan dengan penafsiran berdasarkan kriteria Guilford untuk kualitas korelasi yang didapat.

Berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal peneliti, disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara indikaator emosi pada tes Rorschach dengan indikator emosi pada tes Pauli yang bila dipahami ternyata didasari oleh pengaruh stimulasi yang berbeda, di mana pada tes Rorschach lebih dilandasi oleh pengaruh stimulasi eksternal sedangkan pada tes Pauli lebih mengarah pada stimulasi internal. Hasil penelitian ini mengarahkan kepada para psikolog untuk memandang kedua tes tersebut sebagai hal yang saling melengkapi.

2.2 Analisis Jurnal Spesifik (Pembahasan Penulis)

2.2.1 Tes Rorschach

2.2.1.1 Sejarah Tes Rorschach

Tes atau teknik Rorschach memang merupakan tes proyeksi yang menggunakan stimulus bercak tinta yang paling populer di antara tes bercak tinta lainnya, baik sebelum Rorschach melaporkan hasil penelitiannya maupun sesudahnya. Adapun sejarah perkembangan teknik bercak tinta dari Rorschach ini, dibagi menjadi tiga periode, yaitu:

Ø  Periode sebelum Rorschach

Orang  yang pertama kali tercatat sebagai ahli yang menaruh perhatian terhadap bercak tinta adalah Justinus Kerner. Dengan tulisannya yang berjudul Kleksographein yang terbit pada tahun 1857, di Tubingen-Jerman, Justinus Kerner dapat  dipandang sebagai pelopor dalam bercak tinta. Kerner lebih banyak menaruh perhatian pada pengaruh dari bercak tinta terhadap respon yang diberikan subjek. Pada tahun 1895, Alfred Binet yang dikenal dalam bidang tes intelegensi menyarankan bahwa bercak tinta dapat digunakan untuk menyelidiki imajinasi visual seseorang. Setahun kemudian 1896, Dearborn dari Harvard University menulis artikel yang menceritakan bagaimana cara membuat bercak tinta, baik yang hitam-putih maupun yang berwarna. Ahli lain yang bernama Kirkpatrick (1900) memberikan bercak tinta pada anak-anak dan menggabungkan dengan tes lain. Pada tahun 1910, Whipple orang pertama yang menerbitkan satu seri bercak tinta yang sudah distandardisir dan dilengkapi dengan buku petunjuk (manual). Tetapi alat yang dibuat Whipple ini hanya dapat digunakan untuk mengetahui imajinasi subjek saja. Pada tahun berikutnya perkembangan bercak tinta sudah agak maju. F.C. Barlet (1916) dari Cambridge University menggunakan bercak tinta sebagai bagian dari perlengkapan tesnya untuk mempelajari persepsi dan imajinasi. Tahun 1917, Cicely Parson dari University College of South Wales melakukan penelitian pada murid-murid sekolah dasar dan menengah dengan menggunakan bercak tinta dari Whipple.

Ø  Periode Rorschach

Eksperimen Hermann Rorschach : Rorschach menulis bahwa dia telah menyeleksi satu seri bercak tinta yang terdiri dari 10 kartu dari beribu-ribu kartu yang telah dicobakan. Tidak semua pola yang dibuat dapat diuji cobakan, paling tidak harus memenuhi 2 persyaratan, yaitu: Bentuk gambar tersebut relative simple dan distribusi bercak harus memenuhi persyaratan komposisi tertentu. Subjek eksperimen Rorschach sebagian besar memang adalah para penyandang masalah kejiwaan. Tetapi Rorschach juga menggunakan subjek orang-orang normal, baik yang berpendidikan maupun tidak berpendidikan. Menurut Klopfer (1962) tekniik bercak tinta yang disusun oleh Rorschach merupakan titik puncak keberhasilan dari peneliian-penelitian yang menggunakan bercak tinta selama 20 tahun di Eropa dan Amerika. Yang paling berperan adalah fungsi persepsi (Rorschach, 1981). Rorschach lebih menekankan untuk memahami bagaimana seseorang menghayati sesuatu, kurang mementingkan apa isi penghayatannya. Kalau ada orang yang mengalami ketakutan, atau kecemasan, bukan isi ketakutan atau kecemasan itu yang dilihat, tetapi bagaimana dia mengahayati kecemasan itu sebagai suatu gejala psikologis, bagaimana hubungannya dengan fungsi-fungsi psikologis yang lain.

Ø  Periode sesudah Rorschach : Tes Rorschach sudah mengalami banyak penyempurnaan yang di lakukan oleh para ahli sesudah Rorschach. Pada tahun 1924 tulisan Rorschach bersama asistennya, Emil Obelholzer. Dalam tulisan itu dijelaskan mengenai analisis yang dilakukan dalam teknik Rorschach dan juga didemonstrasikan cara penyekoran serta interpretasinya. David Levy memperkenalkan tes Rorschach di Amerika. Samuel Beck, menerbitkan bercak tinta untuk tes Rorschach dan juga mengembangkan metode interprestasi yang masih dipakai sampai sekarang. Hertz banyak mengadakan penelitian tentang aspek-aspek metodologis dalam tes Rorschach. Bruno Klopfer mengembangkan tes Rorschach. Pada tahun 1934 telah mengembangkan ide-ide Rorschach dalam kelompok studinya. Pada tahun 1936 Klopfer dkk mendirikan Rorschach Institute sebagai lembaga melatih para para ali untuk menggunakan tes Rorschach. Pada tahun 1948 Rorschach Institute berubah menjadi The Society for Projective Technique, yang menerbitkan TAT (Thematic Apperception Test) dan tes proyektif lainnya. d)     Holtzman Ink Blot Technique, dirancanh oleh Holtzman untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan metodologi dan tes Rorschach Penerapan tes Rorschach sebagian besar di bidang klinis, baik di rumah sakit maupun di klinik psikiatris dan psikologis. Tetapi tes Rorschach juga bisa menjadi terapi, ada testi yang mengatakan ketika selesai menjalani tes ini testi merasa lega dan hilang beban pikiran dan emosionalnya. Teknik Rorschach juga banyak digunakan di luar bidang klinis. Misalnya di bidang militer dan industri, tes Rorschach banyak digunakan sebagai alat seleksi. Temasuk pengguna tes Rorschach secara kelompok (Williams & Kellman, 1962).

2.2.1.2  Aspek Tes Rorschach

Aspek kepribadian : dalam mendekati kepribadian, Rorschach berusaha melihat secara menyeluruh (global approach). Suatu fungsi psikologis tertentu selalu dilihat dalam kaitannya dengan fungsi psikologis yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa tes Rorschach dapat mengungkap seluruh kepribadian seseorang.

Menurut Klopfer (1962) kepribadian manusia itu adalah sedemikian kompleksnya, sehingga tidak akan mungkin dapat dilihat secara utuh hanya dengan menggunakan satu alat tes saja.

Hasil tes Rorschach hanyalah salah satu frame of reference dalam melihat kepribadian. Hasil tes Rorschach juga dapat melengkapi hasil dari tes objektif, misalnya tes intelegensi. Karena tes Rorschach juga dapat memprediksikan taraf dan fungsi intelegensi seseorang, maka hasil tes objektif akan dapat menjadi referensi yang perlu diperhatikan. Aspek-aspek yang diungkap melalui tes Rorschach dapat dibagi dalam tiga aspek pokok, yaitu: (a) aspek kognitif, (b) aspek afektif atau emosional, dan (c) aspek fungsi ego.

 

 

2.2.1.3  Skoring Tes Rorschach

Tujuan dari skoring dalam tes Rorschach tidak lain adalah:

Ø  Untuk engelompokkan bahan dari hasil tes Rorschach ke dalam aspek-aspek tertentu, agar dapat diinterpretasi.

Ø  Untuk merubah jawaban yang masih bersifat kualitatif menjadi bahan kuantitatif.

Ø  Sebagai sarana komunikasi antara ahli satu dengan lainnya.

Pada prinsipnya skoring yang dimaksudkan disini adalah merupakan suatu proses pengelompokkan jawaban subjek ke dalam 5 kategori skoring yaitu:

  • Location: pada bagian mana subjek melihat konsepnya itu dalam bercak.
  • Determinant: yaitu bagaimana konsep itu dilihat subjek, atau aspek apa yang digunakan subjek untuk memberikan jawabannya itu.
  • Content : yaitu apa isi jawaban subjek tersebut.
  • Popular-Original (P-O) : yaitu apakah jawaban subjek itu merupakan konsep yang sering dilihat orang lain ataukah tidak
  • Form Level Rating (FLR) : yaitu bagaimana ketepatan konsep tersebut dengan bercaknya serta bagaimana kualitasnya.

SKORING LOCATION

Jawaban Whole : jawaban ini terdiri dari skor W (Whole) ,W (Whole-cut), DW (Confabulatory whole) dengan penjelasan sebagai berikut :

  • Skor W (whole) : skor ini diberikan bila subjek menggunakan seluruh bercak sebagai dasar untuk memberikan jawabannya.
  • Skor W-cut (whole cut) : skor ini diberikan bila subjek menggunakan paling tidak dua pertiga dari bercak. Subjek tidak bermaksud menggunakan seluruh bercak. Ada sedikit bagian yang dihilangkan karena tidak sesuai dengan konsepnya.
  • Skor DW atau dW (Confabulatory whole) : skor DW diberikan apabila subjek mengguanakn suatu detail kemudian digeneralisasikan pada seluruh bercak.

SKORING DETERMINAT : Jawaban Definite : yaitu konsep jawaban yang mempunyai bentuk yang pasti. Jawaban Semi-definite : yaitu suatu konsep jawaban yang mempunyai bentuk kurang pasti. Jawaban In-definite : yaitu konsep jawaban yang sama sekali tidak mempunyai bentuk yang pasti atau bentuknya. Ada empat unsur yang termasuk dalam kategori skoring determinant ini, yaitu:.form (bentuk), movement (gerakan), shading (perbedaan gelap terang), dan color (Warna).

SKORING CONTENT : menentukan apa isi jawaban subjek. Skoring content ini memang tidak begitu sukar, karena sudah jelas dan kategorinya tidak terlalu rumit.

SKORING P-O (POPULAR-ORIGINAL) : Skoring Popular yakni suatu jawaban disebut popular bila jawaban tersebut sering muncul atau diberikan oleh banyak subjek pada suatu lokasi bercak tertentu. Jawaban Original yakni jawaban original yang diskor O adalah pada satu bagian bercak tertentu yang hanya muncul sekali diantara seratus jawaban.

SKORING FLR (FORM LEVEL RATING) : Dasar penyekoran FLR, yaitu: ketepatan (akurasi), kekhususan (spesifikasi), pengorganisasian (organisasi)

 

2.2.2 Tes Pauli

2.2.2.1  Sejarah Tes Pauli

Tes Pauli diciptakan oleh : Richard Pauli. Tes Pauli merupakan penyempurnaan dari tes Kraeplin . Prinsip utama dari tes Pauli adalah tiap manusia itu mampu belajar dan berlatih . Meskipun tes Pauli banyak mengukur sikap kerja namun tes Pauli tetap digolongkan tes kepribadian karena unsur yang paling kuat dalam tes Pauli adalah kemauan. Mau merupakan unsur dari watak/ karakter/ kepribadian seseorang. Dan masalah kepribadian tidak lain adalah merupakan masalah dinamika motif.

2.2.2.2 Aspek Tes Pauli

Adapun enam aspek dari tes Pauli untuk mengungkap potensi kerja yang digunakan yaitu:

a.       Energi Psikis (Jml)  : Energi psikis mengungkap besarnya potensi energi kerja, terutama ketika dibawah tekanan.

b.      Ketelitian dan Tanggungjawab (Be) : Ketelitian dan tanggungjawab menunjukkan adanya kesediaan bertanggungjawab, teliti, kepedulian, akan tetapi dapat berarti pula mudah dipengaruhi, labil, kurang waspada.

c.       Kehati-hatian (Sa) : Kehati-hatian menunjukkan adanya kecermatan, hati-hati, konsentrasi, kesiagaan dan kemantapan kerja terhadap pengaruh tekanan.

d.      Pengendalian Perasaan (Si) : Pengendalian perasaan menunjukkan adanya ketenangan, penyesuaian diri, keseimbangan dan sebaliknya dapat berarti menggambarkan penuh temperamen, mudah terangsang, dan cenderung egosentris.

e.       Dorongan Berprestasi (Ti)  : Dorongan berprestasi menggambarkan kesediaan dan kemampuan berprestasi, serta kemauan untuk mengembangkan diri.

f.       Vitalitas dan Perencanaan (TP) : Vitalitas dan perencanaan menunjukkan ambisi untuk mengarahkan diri, dan mengatur kemampuan dalam mengatur tempo dan irama kerja.

2.2.2.3  Interpretasi atau Diagnosis Tes Pauli

Kesiap-siagaan : titik awal  ,Penyesuaian diri : jumlah keseluruhan dan grafik keseluruhan , Stabilitas emosi : penyimpangan , Daya tahan : jumlah keseluruhan dan jalannya grafik secara keseluruhan, Energi kerja : jumlah keseluruhan , Ketelitian : jumlah kesalahan dan jumlah pembetulan , Konsentrasi : jumlah keselurhan, jumlah kesalahan dan jumlah pembetulan , Kemauan : jumlah keseluruhan dan jalannya grafik, Pengarahan energi kerja : titik akhir harus lebih tinggi dari titik awal

2.2.2.4 Penyimpangan Tes Pauli

Dalam jurnal peneliti,aspek emosi didalam tes Pauli dilihat berdasarkan nilai simpangan. Penulis menjabarkan mengenai interpretasi tes Pauli berdasarkan nilai penyimpangan sebagai berikut :

Penyimpangan

Rendah Tinggi
Positif:

  • Adanya keseimbangan.
  • Emosi stabil.
  • Dapat menyesuaikan diri.
  • Kapasitas mental baik.

Negatif:

dengan slope rendah pada awal kurva,

  • Ketumpulan emosi.
  • Emosi rigid, kurang bersemangat
Positif:

  • Emosional, bergejolak.
  • Dinamis.
  • Dikuasai oleh emosi/perasaan.

Negatif:

  • Lemah.
  • Temperamental.
  • Kontrol diri rendah.

2.2.2.5  Penghitungan Penyimpangan Tes Pauli

Ø  Penghitungan menggunakan bolpen biru

Ø  Hitung hanya pada kolom ke-3 sampai ke-18

Ø  Cari selisih antara grafik dasar (warna biru/ hitam untuk dewasa) dengan grafik rata-rata (warna merah). Hasil merupakan bilangan mutlak dan tulis di atas tiap kolom

Ø  Cari rata-rata simpangan

å simpangan                100%

Si         = ———————– x

16 rerata

 

 

2.2.2.6 Kebermaknaan dan Keuntungan Tes Pauli

Makna Tes Pauli antara lain :

a.       Tes Pauli merupakan alat diagnostik yang dapat dipercaya untuk memeriksa batas-batas perbedaan individu.

b.      Tes Pauli dapat untuk mendiagnosis perbedaan kostitutif. Hal itu antara lain didapat dari hasil pemeriksaan yang menggunakan tes Pauli. Hasil itu antara lain menunjukkan bahwa daya tahan wanita lebih besar dari pria, keajegan prestasi orang desa lebih tinggi dari orang kota, dan sebagainya. Hal-hal tersebut juga menunjukkan bahwa tes Pauli bisa dimamfaatkan untuk pemahaman psikologi sosial.

 

c.       Tes pauli merupakan usaha pemeriksaan prestasi yang cukup baik.

d.      Tes Pauli dapat digunakan untuk orang yang menderita luka/gangguan diotak, misal terkena tembakan dikepala. Hasilnya menunjukkan bahwa luka pada “parietal” dan “frontal” menunjukkan kurangnya prestasi yang besar, sedang luka pada “occipital” menunjukkan kurangnya prestasi yang tak terlalu besar (paling minimal).

e.       Tes Pauli dapat digunakan sebagai metode untuk mengetahui pengaruh peransangan dari luar (misal narkotika).

f.       Tes Pauli dapat digunakan sebagai diagnostik untuk mendeteksi anak-anak yang sukar dididik. Pada tes itu terdapat kurve dengan bentuk-bentuk tertentu untuk mereka yang terhambat perkembangannya. Untuk mereka yang tidak mempunyai pendirian (Hatloso) dan mereka yang lemah diri.

g.      Tes pauli ini digunakan sebagai metode pemeriksaan untuk orang yang buta meskipun prestasinya bila dibandingkan dengan orang yang normal berkurang, akan tetapi prestasi individuil masih terlihat didalam tes sebagai prestasi orang yang normal.

h.      Tes Pauli digunakan sebagai dasar tipologi kepribadian.

i.        Tes Pauli ialah suatu metode experimental untuk mendapat pengaruh sikap kerja terhadap prestasi kerja.

j.        Tes Pauli merupakan alat pembantu experimental yang menjadi dasar untuk diagnostik karakterologi.

Salah satu segi keuntungan dari tes pauli adalah menghilangkan variabel penting yang biasanya dapat disembunyikan atau pura-pura (faking) dari subjek misal : sifat malu-malu, yang biasanya sukar dihindari, pada tes ini tidak begitu berpengaruh pada percobaan-percobaan yang telah dilakukan.

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kritik Penulis Terhadap Jurnal Peneliti

Dalam penulisan hal yang sangat penting dalam jurnal, perlu adanya koreksi dan ketelitian sehingga tidak terdapat kesalahan yang sangat besar dalam aspek variabel yang diuji (pengertiannya menjadi rancu).

Perlu adanya penggalian lebih dalam lagi dari segi atau aspek emosi yang dimaksud peneliti, sehingga dapat tersampaikan dengan baik. Validitas dan reabilitas dari satu unsur terkait unsure lainnya perlu diteliti dan dibahas lebih mendetail agar tidak menimbulkan kekeliruan interpretasi. Berbagai aspek emosi yang dikaitkan ditinjau kembali agar menghasilkan sesuatu yang belum diketahui secara umum.

Mengingat tes Rorschach memerlukan keahlian yang khusus sementara tes Pauli lebih dapat diantisipasi mengenai biasnya, maka hal ini perlu ditinjau kembali oleh peneliti.

 

3.2 Saran Penulis Terhadap Jurnal Peneliti

Seperti yang telah diketahui bahwa tes Rorschach dan tes Pauli memang tidak dapat disetarakan mengingat perbedaan konsep keduanya, terutama dalam penggalian aspek emosi, maka peneliti akan lebih mendapatkan hasil atau penemuan baru bila mengkaji dan melakukan analisis korelasi tes-tes psikologi yang dilandasi dengan stimulasi yang sama.

Meskipun penelitian mengkaji stimulus yang berbeda, namun jika penggunaannya dalam konsep dominasi yang setara, maka hal tersebut menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Setiap titik yg tak mereka lihat,aku memandangnya cermat
Jika itu kesalahan,akankah maaf tersampaikan?
Aku tahu itu butir abu,mereka rasa debu
jika itu musibah,detailku tanpa arah?

…Setiap tetesan darahku,mereka beku padaku
Andai kalian tahu!akulah mayat yg terjerat erat!!
Berat!
Peristaltik ku mati,menunggu peti

Pencahar=sinar
Disuasi tanpa asi
Atomistis=sadis
Daku telanjang,bukan krn uang!

SERANOGRAFEPITAFSARAF

Daku sedih,bila menatapmu letih
Kelaifanku,mampu kau buat beku
Dikau aurora pembangun asa penuh kasih
Kesanianmu,mampu buatku terpaku

…Kaulah kehangatan lokusi,namun kedinginanku,tanpa demarkasi,tanpa spasi
Mereka hisap darahku,hentikan nafasku
Tancapkan tembiang menghempasku menuju karang!
Urinalisis tak mendesis,raga jiwaku terkikis..

Dikau aurora selayaknya lentera
Inginku berpamit padamu,karenaku sudah tak mampu

P epatah,patah..
S abana,terpana…
I ntuisi,tanpa isi….
K abut,kalut…..
O rdinasi,pasi……
…L akonik,panik…….
O rbita,buta……..
G arizah,jenazah………
I lumisasi,tanpa asi……….

( 19.15.19 ……..8-5-12-16 !!!!!!!!!!!!!)

Syukurku panjatkan,

Atas berat dan kejam yang kurasakan

Syukurku haturkan,

Atas segala pahit yang kujalankan

Karenamu,

Renyai –renyai yang membuai…

Bak bayangan kesejukan dalam kehangatan

Saat ku menangis dihadapmu,

Kau untai butir tetes air mataku,

Dan kau kalungkan padaku untaian air mata itu…

Sebagai simbol kekuatan dan asaku…

Sungguh takut,karena kaulah yakut..

Dayuh akan kasih,penahan perih..

Tiada maksud hati tuk mengusikmu,

Tiada maksud diri tuk mengganggu,

Hanya melukiskan bait-bait malamku,untukmu……Ibu….

Awan Tag