Just another WordPress.com site

BAB I

PENDAHULUAN

Review Hakikat Inteligensi

Untuk masyarakat awam, istilah IQ seringkali disamakan sebagai singkatan dari inteligensi. Hal ini merupakan miskonsepsi yang terlanjur populer, sehingga perlu ditinjau kembali konotasi umum dari konstruk ”inteligensi”. IQ tidaklah sama dengan inteligensi. Arnorld Buss menyebutkan bahwa inteligensi dapat dipandang sebagai temperamen. Suatu kecenderungan tingkah laku ”quasi-biologis” (seolah-olah tingkah laku biologis), pada hakekatnya bersifat konstitusional, yang merupakan tanda untuk membedakan individu satu dengan individu lainnya.

Namun beberapa ahli psikologi menyatakan bahwa temperamen hanyalah merupakan tingkah laku emosional; hal inilah yang membatasi inteligensi sebagai temperamen. Buss memberikan pendekatan yang lebih luas yaitu bahwa inteligensi dipandang merupakan sebagian dari kepribadian, sedangkan temperamen dipandang sebagai penentu perbedaan individu.

Dari sudut bawaan (nature), pada awal kehidupan seorang individu dipandang hanya memiliki inteligensi umum, tidak berbeda-beda dan bersifat plastis (luwes). Setelah terjadi interaksi dengan lingkungan, inteligensi individu menjadi berbeda-beda. Piaget membuka rahasia tentang proses diferensiasi, dimana dalam proses diferensiasi ini penggunaan bahasa memainkan peran penting.

Setelah individu tumbuh menjadi anak yang matang, ia dikatakan menguasai (mastery) tugas-tugas yang berkaitan dengan proses diferensiasi untuk membedakan. Selanjutnya, tumbuh rasa ingin tahu (curiousity) untuk menguasai pengetahuan di segala bidang sehingga individu mulai dapat menspesialisasikan berbagai hal.

Sekalipun demikian, inteligensi individu yang digeneralisasikan sebelumnya merupakan bagian dari individualitasnya. Kita masih dapat membedakan orang dewasa yang satu dengan orang dewasa lainnya atas dasar inteligensi umumnya.

1.1 Definisi Inteligensi

Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai: “Intelligence is the aggregate or global capacity of the individual to act purposefully, to think rationally and to deal effectively with this environment”. Artinya : Inteligensi merupakan suatu agregat atau kapasitas global dari individu untuk dapat bertingkah laku secara terarah, berpikir secara rasional, serta berhubungan secara efektif dengan lingkungannya.

Dari pengertian di atas, dapat dijelaskan bahwa:

Ø  Inteligensi bersifat global, karena inteligensi mencirikan tingkah laku individu sebagai keseluruhan.

Ø  Inteligensi merupakan sebuah akumulasi (aggregate), karena komposisinya terbentuk dari elemen-elemen kecakapan, yang meskipun tidak sepenuhnya berdiri sendiri tetapi secara kualitatif dapat dibedakan satu dari yang lainnya. Agregat disamakan dengan pembangkit, diesel. Wechler menyamakan inteligensi dengan listrik, sebab kita tidak dapat melihat listrik secara langsung. Tiga unsur utama yang dapat diihat dari listrik adalah efek magnetisnya, efek thermisnya, dan efek kimiawinya. Sama halnya seperti inteligensi. Dengan mengukur kecakapan-kecakapan yang tampak dari tingkah laku seseorang, maka kita akan dapat mengukur inteligensi seseorang. Kita dapat membedakan apakah tingkah laku seseorang termasuk inteligen atau tidak.

Ø  Meskipun kecakapan-kecakapan ini termasuk dalam inteligensi, namun inteligensi tidak sama dengan sekedar penjumlahan dari kecakapan-kecakapan ini. Artinya, inteligensi bukan sekedar jumlah total dari kecakapan-kecakapan ini, tapi bersifat melebur/inklusif

 

1.2 Arti IQ

Gambaran tingkat kemampuan individu pada saat tertentu yang berkaitan dengan norma usia tertentu. Tes-tes inteligensi bukan untuk melabelkan individu,namun untuk membantu memahami individu tersebut. IQ adalah cerminan dari prestasi pendidikan sebelumnya dan sarana prediksi kinerja pendidikan selanjutnya.

 

Penelitian Terman dan Oden (1925-1954)menemukan bahwa inteligensi yang tinggi memiliki hubungan dengan perkembangan fisik awal, beberapa subjek berada di atas rata-rata dalam hal karakteristik fisiknya, termasuk tinggi, berat dan kesehatannya. Terman dan Oden menemukan bahwa subjek mereka menjadi dapat menyesuaikan diri dengan baik, lebih populer, dan biasanya menjadi pemimpin daripada anak-anak yang memiliki kemampuan rata-rata.

Individu-individu ini juga mendapatkan penghargaan dengan tingkat yang lebih tinggi daripada teman-temannya. Setelah dewasa mereka penuh dengan kesuksesan, memperoleh banyak uang, lebih banyak menduduki jabatan manajerial, dan lebih banyak berperan memberikan sumbangan dengan menciptakan berbagai literatur dan ilmu pengetahuan daripada orang dewasa lainnya. Pada umumnya skor tes inteligensi memiliki korelasi yang tinggi dengan prestasi akademik di sekolah.

Dengan demikian dapat dijadikan prediksi (ramalan) terhadap kesuksesan skolastik. Walaupun kita mengetahui bahwa sejumlah variabel non skolastik juga mempengaruhi ke kesuksesan skolastik, namun tidak ada faktor prediktif seperti inteligensi. Faktor-faktor non skolastik tersebut antara lain adalah motivasi, faktor kepribadian, kesehatan fisik, minat, cita-cita, dan sebagainya.

1.3  Heritabilitas dan Modifiabilitas

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dlm menginterpretasikan pengaruh hereditas:

ü  Data empiris dalam kesamaan2 familial tunduk pada distorsi karena pengaruh faktor2 lingkungan yangg tidak diperhitungkan.

ü  Indeks2 heritabilitas merujuk pada populasi, dimana heritabilitas tersebut ditemukan pada waktunya.

ü  Heritabilitas tidak menunjukkan derajat modifiabilitas sifat.

 

IQ dapat dipengaruhi oleh intervensi lingkungan. Menurut tokoh penganut empirisme, menunjukkan bahwa lingkungan yang memperkaya dan memotivasi anak, memengaruhi perubahan skor IQ.

Perubahan-perubahan besar dalam struktur keluarga, kenaikan/penurunan yang tajam pada pendapatan finansial, adopsi ke dalam rmh asuhan mempengaruhi peningkatan/penurunan IQ. Pada dasarnya, isu nature (hereditas)-nurture (lingkungan) memberikan sumber-sumber perkembangan individu. Jadi, faktor hereditas dan lingkungan selalu ada dlm perkembangan perilaku individu.

 

1.4 Motivasi dan Inteligensi

Dalam menginterpretasikan skor-skor tes, kepribadian dan kemampuan tak dapat dipisahkan terus menerus. Kinerja seseorang pada tes bakat dan juga kinerjanya di sekolah, di pekerjaan, atau dalam konteks lainnya dipengaruhi oleh dorongan berprestasi, ketekunan, sistem nilai, kebebasannya dari masalah-masalah emosional yang mengganggu, dan hal-hal lain yang secara tradisional dimasukkan dalam konteks “kepribadian”.  Minat, sikap dan konsep diri individu sebagai pembelajar mempengaruhi keterbukaannya pada tugas belajar, hasrat belajarnya, perhatian yang ia berikan pada guru, dan waktu yang digunakan untuk tugas itu.

Ada bukti bahwa reaksi-reaksi individual terkait secara signifikan dengan prestasi dalam pendidikannya (Baron, 1982; Dreger, 1968; J.McV. Hunt, 1981). Pada tingkat yang lebih dasar, ada semakin banyak konsensus bahwa bakat tak bisa lagi diteliti secara mandiri terhadap variabel-variabel afektif (Anastasi, 1985b, 1994).

Berbagai macam studi dilakukan, didapat bukti bahwa perkembangan intelektual seseorang dapat diperbaiki dengan memadukan informasi tentang motivasi dan sikap dengan skor tes bakat.

1.5 Teori-teori Inteligensi

 

1.5.1        Teori Uni-Faktor dari William Stern

Pada tahun 1911, William Sern memperkenalkan teori uni-faktor tentang inteligensi. Teori ini merupakan teori kapasitas umum atau teori kecakapan umum (general capacity-theory). Ide Stern ini berkembang di luar pemikiran Binet. Akan tetapi setidaknya Stern juga sangat menghargai pendekatan Binet dalam mengkonstruksi analisa perbandingan IQ.

Ciri inteligensi yang tidak berbentuk menunjukkan bahwa tidak akan pernah ada dua individu yang memiliki ukuran yang sama. Hal ini memiliki implikasi bahwa tidak pernah ada seseorang yang berpikir, bertindak dan memecahkan masalah persis sama dengan cara orang lain.

Pada pandangan Stern, jumlah G (kapasitas umum) yang dimiliki individu dapat diarahkan ke banyak aktivitas. Kapasitas umum (G) dalam jumlah yang kita miliki secara natural dapat memecahkan multi problem.

 

1.5.2        Teori Dua-Faktor dari Spearman

Dalam teori Spearman, orang berbeda karena tingkat faktor umum dan karena faktor-faktor khusus yang terlibat dalam suatu tugas sehingga seseorang dapat memiliki inteligensi yang lebih daripada orang lain. Hal ini mungkin disebabkan karena seseorang tinggi di bidang g dan rendah di bidang s.

Apabila diikhtisarkan, teori Spearman tentang teori perbedaan individual adalah sebagai berikut:

1.      Orang memiliki jumlah g (kapasitas general) yang berbeda.

2. Dalam diri seseorang, jumlah faktor-faktor s berbeda.

3. Orang memiliki perbedaan jumlah dan jenis faktor g dan s.

Spearman tidak memberikan nama tertentu terhadap faktor g dan faktor-faktor s ini. Ia hanya menyebutkan bahwa faktor g adalah energi mental umum yang dimiliki individu. Sedangkan faktor s merupakan pola syaraf atau mesin yang bekerja melalui faktor g.

 

1.5.3        Teori Multi-Faktor dari Thorndike

Thorndike beranggapan bahwa inteIigensi kita berisi multiproses khusus. Ia tidak memberikan nama terhadap multi proses khusus ini, tetapi ia menjelaskan bahwa proses itu adalah neurologis. Aktivitas mental merupakan jumlah yang tidak tentu dan merupakan kombinasi hubungan syaraf yang tidak terhingga jumlahnya. Bagi Thorndike, faktor g (kemampuan general) itu tidak ada. Yang ada hanyalah ke-kompleksan tingkah-laku mental spesifik.

 

1.5.4        Teori Kemampuan Primer dari Thurstone

Thurstone mengadakan analisa faktor yang berkaitan dengan inteligensi. Thurnstone (1983) yang tidak sepakat dengan teori Spearman telah menyelenggarakan 56 tes dengan hasil tidak ada faktor inteligensi umum. Thurstone mengambil kesimpulan bahwa tidak ada faktor umum dalam inteligensi.  Inteligensi adalah sejumlah kemampuan mental yang bersifat primer. Penelitiannya menunjukkan bahwa kemampuan mental dapat dikelompokkan menjadi 7 faktor.

Inteligensi dapat diukur dengan mengambil sample ‘performance’ atau penampilan/prestasi individu melalui 7 bidang:

1. kemampuan di bidang angka, yaitu kecepatan dan ketepatan dalam perhitungan aritmatika sederhana.

2. kemampuan dalam kelancaran kata, yaitu kecepatan menyebutkan kata-kata dalam kategori tertentu, misalnya menyebutkan nama makanan yang dimulai dengan huruf s.

3. kemampuan dalam ingatan asosiatif, yaitu keterampilan dalam tugas-tugas yang menuntut ingatan, misalnya belajar mengasosiasikan pasangan item-item yang tidak berhubungan

4. kemampuan dalam penalaran induktif, yaitu kemampuan menemukan hukum-hukum.

5. kemampuan dalam penguasaan ruang, yaitu memvisualisasikan bagaimana objek tiga dimensi dapat tampak jika dirotasikan atau dipecah-pecahkan.

6. kemampuan dalam pemahaman verbal, yaitu kemampuan dalam jumlah kosa kata, pemahaman bacaan, dan analogi verbal.

7. kemampuan dalam kecepatan perceptual, yaitu kemampuan dalam tugas-tugas klerikal sederhana, seperti memeriksa kesamaan dan perbedaan detail visual.

 

 

1.5.5        Teori Model Inteligensi dari Guilford

Salah satu teori inteligensi multifaktor telah dikemukakan oleh Guilford (1959). Kemudian terus direvisi sampai tahun 1988. Ia menggunakan teknik “analisis faktor” statistik untuk mengembangkan model berbentuk kubus yang ia sebut sebagai model “struktur intelek” atau dalam bahasa Inggris disebut Structure of Intellect (SOI). Ia membuat hipotesis untuk mengklasifikasikan komposisi sistem kemampuan intelektual menurut “tiga dimensi”.

Sistem kemampuan intelek tersebut terdiri atas :

1. Material atau isi yang diproses

2. Proses atau operasi dari material

3. Bentuk atau produk informasi yang telah diproses

 

 

BAB II

ISI

2.1 Analisis Jurnal Tesis Umum (Review)

Jurnal tesis peneliti yang berjudul “ Hubungan Inteligensi, Status Gizi Dengan Prestasi Belajar Siswa SLTP “ merupakan studi kasus dengan rancangan penelitian bersifat belah lintang.  Yang belum dicantumkan dalam jurnal tesis peneliti yakni metode belah lintang disini lebih dikenal dengan istilah croos sectional yaitu penelitian dimana variabel atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur dalam waktu yang bersamaan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan inteligensi, status gizi dengan prestasi belajar siswa. Dengan latar belakang yang telah tercantum pada jurnal tesis, inteligensi diyakini mempunyai sumbangan besar pada individu dalam melakukan aktivitasnya, khususnya dalam bidang penelitian dan pengajaran.

Dalam jurnal tesis peneliti, penulis memperoleh rumusan masalah sebagai berikut :

1.      Adakah hubungan inteligensi, status gizi dengan prestasi belajar siswa SLTP ?

Dan terdapat tujuan penelitian antara lain :

1.      Mengetahui hubungan inteligensi dengan prestasi belajar siswa SLTP.

2.      Mengetahui hubungan status gizi dengan prestasi belajar siswa SLTP.

3.      Mengetahui hubungan antara inteligensi dan status gizi secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa SLTP.

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian di atas, peneliti membuat hipotesis :

 

 

ü  Hipotesis Null (Ho)

Ho1 : Tidak terdapat hubungan antara inteligensi dengan prestasi belajar siswa SLTP

Ho2 : Tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa SLTP

Ho3 : Tidak terdapat hubungan antara inteligensi dan status gizi terhadap prestasi belajar siswa SLTP

ü  Hipotesis Alternatif (Ha)

Ha1 : Terdapat hubungan antara inteligensi dengan prestasi belajar siswa SLTP

Ha2 : Terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa SLTP

Ha3 : Terdapat hubungan antara inteligensi dan status gizi terhadap prestasi belajar siswa SLTP

Manfaat penelitian yang tersurat dalam jurnal tesis peneliti adalah memberikan masukan bagi penelitian lebih lanjut (bidang penelitian), sebagai sarana bagi tenaga medis maupun sector yang terkait dalam pelayanan kesehatan siswa di sekolah (bidang pelayanan kesehatan), dan menambah wawasan serta pengetahuan tentang hubungan inteligensi, status gizi dengan prestasi belajar pada siswa SLTP terutama untuk para pendidik dan orang tua siswa (bidang pendidikan/ilmu pengetahuan).

Dalam metode penelitian, (jenis penelitian studi belah lintang) menghabiskan waktu penelitian selama tiga bulan yang berlokasi di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Kotamadia Semarang, yang ditentukan secara random sampling dan diperoleh sampel yakni dari SLTP Negeri II dan SLTP Negeri XIV . Populasinya adalah siswa kelas II yang terdapat pada sampel yang telah ditentukan. Besar sampel yang dibutuhkan dalam penelitian tersebut didapat dengan menggunakan rumus tes hipotesis rasio odds.

Pada penelitian ini sampel disaring kembali menggunakan beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti, yakni meliputi kriteria inklusi (siswa kelas II SLTP yang masuk sekolah pada saat penelitian dilakukan serta tidak menderita gangguan pengelihatan dan pendengaran) dan kriteria eksklusi (siswa yang menderita sakit saat penelitian dilakukan, siswa kelas II SLTP yang berumur lebih dari 16 tahun dan mengalami anemia).

Dengan menggunakan cara pengumpulan data yang telah dijelaskan dalam jurnal tesis tersebut, peneliti melakukan identifikasi terhadap variabel-variabel penelitian, antara lain : variabel pengaruh/variabel bebas (IV) yakni inteligensi dan status gizi, variabel terpengaruh/variabel tergantung (DV) yakni prestasi belajat serta variabel pengganggu yakni lingkungan belajar.

Kemudian peneliti melakukan pengolahan dan analisa data (pengujian statistik) untuk mengetahui karakteristik responden dan hubungannya antara beberapa variabel. Peneliti juga menerapkan etika dalam penelitiannya meliputi informed consent, kepentingan siswa diutamakan, ijin peneltitian,dll.

 

2.2 Analisis Jurnal Tesis Spesifik (Pembahasan Penulis)

Karena pada pembahasan kali ini penulis mengaitkan dengan materi inteligensi itu sendiri, maka akan dilakukan pembahasan materi-materi pada jurnal tesis peneliti yang terkait dengaan inteligensi disertakan sedikit tambahan bahasan lainnya.

Bahasan langsung tertuju pada tinjauan pustaka peneliti, yakni bahasan mengenai inteligensi (bagian instrumental) dimana dalam jurnal tesis dijelaskan mengenai arti dari inteligensi itu sendiri (pengertian inteligensi), perkembangan inteligensi meliputi irama perkembangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi, serta macam-macam tes inteligensi meliputi tes inteligensi untuk individu dan kelompok.

 

Yang perlu diperhatikan adalah dari segi pemaparan itu sendiri dimana nanti pada hasil akhirnya yang dimaksud sebagai inteligensi oleh peneliti ternyata adalah intelligence quotient (IQ) maka perlu adanya definisi operasional dari IQ sendiri,tidak hanya terkait pembahasan inteligensi secara umum, karena variabel yang diuji sendiri dipandang kabur oleh penulis yang seharusnya penjelasan dari IQ sendiri sangat penting untuk dicantumkan mengingat IQ mengambil peranan utama dalam jurnal tesis peneliti.

Mengenai perkembangan inteligensi (irama perkembangan inteligensi) peneliti menjelaskan bahwa inteligensi mengalami perkembangan yang pesat pada usia-usia tertentu saja. Pada usia tertentu akan tampak puncak perkembangan dan cenderung menetap kemudian akan mengalami penurunan setelah menginjak usia tertentu. Pada bagian ini seharusnya peneliti menerangkan lebih spesifik dari konsep “usia tertentu” itu sendiri, kemudian dikaitkan dengan usia subjek penelitian yang digunakan pada penelitian tersebut. Penting juga disertakan mengenai perkembangan inteligensi (terutama IQ) pada remaja mengingat subjeknya berada pada kategori usia remaja.

Dari segi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi, perlu adanya penjelasan mengenai perkembangan IQ itu sendiri (bukan semata-mata konsep inteligensi saja) kemudian tambahan mengenai sejauh mana IQ berperan jika dibandingkan dengan faktor lainnya (EQ dan SQ) . Kemudian pemaparan lebih komperhensif mengenai pelatihan,disertasi contoh-contoh, lalu analisis lingkungan sebagai faktor yang mempengaruhinya. Faktor lingkungan di sini kurang jelas ruang lingkupnya sehingga penulis menilai akan cenderung bias hasilnya bila pemaparannya kurang nampak batas-batas kejelasan mengenai konsep yang akan dikupas oleh peneliti.

Mengenai penilaian status gizi yang dilakukan pengukuran dengan pengambilan status gizi ditinjau dari IMT patut dipertanyakan kembali, mengingat pencantuman faktor lain yakni anemia yang hanya dilakukan perawatan bagi subjek penelitian yang terkena anemia selama 3 bulan.

Tanpa adanya pemeriksaan kembali pada subjek penelitian yang lainnya di mana rentangan waktu tersebut dinilai penulis cukup panjang untuk memberi perubahan terhadap status gizi yang dimaksud peneliti. Penggunaan IMT juga dirasa penulis kurang tepat dalam hal ini, akan cenderung terjadi bias penelitian.

Hal yang sangat perlu diperhatikan yakni kerangka teori itu sendiri. Pada mulanya peneliti membahas mengenai inteligensi (secara umum) tanpa pembahasan spesifik dari segi IQ itu sendiri yang nantinya merupakan variabel yang dimaksud peneliti untuk melihat korelasinya dengan prestasi belajar, ditambah lagi pemunculan unsur-unsur baru yang dapat menimbulkan ambiguitas, dapat dilihat pada bagian kecerdasan (pada kerangka teori) yang dicantumkan yakni IQ, EQ, SQ di mana bahasan tersebut sangat tidak komperhensif dengan bahasan awal peneliti. Pengujian dan pembahasan keterkaitan antara IQ, EQ dan SQ itu sendiri tidak dibahas oleh peneliti. Sangat ambigu dimana pemaparan awal intelligensi berubah menjadi IQ yang diuji (tanpa pembahasan lebih spesifik) yang kemudian dimunculkan EQ dan SQ yang tidak mendapat bahasan dalam jurnal tesis peneliti.

Kemudian ditinjau dari definisi operasional, penetapan variabel pengaruh, terpengaruh dan variabel pengganggu. Kemudian dari penilaian mengenai prestasi belajar itu sendiri (variabel terpengaruh) yang ditinjau dari hasil pendidikan berupa angka-angka dalam rapor. Nilai rapor itu sendiri perlu dipertanyakan validitasnya, mengingat kemungkinan adanya faktor-faktor lain seperti faktor kecurangan dalam memperoleh nilai, faktor keadaan kesehatan pada saat catur wulan pertama dan kedua yang bukannya tidak mungkin untuk mengubah prestasi belajar siswa secara signifikan dalam perkembangan prestasinya, mengingat subjek berada dalam kategori remaja, perubahan signifikan disini sangat mungkin terjadi dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya.

Kemudian ditinjau dari lingkungan belajar siswa, di mana dalam penelitian ini merupakan variabel pengganggu. Skor juga dinilai dari variabel ini (berdasarkan hasil penelitian) , hal ini juga dapat menimbulkan bias. Bias dari faktor jawaban yang diperoleh dari subjek penelitian serta bias dari faktor konsep lingkungan belajar itu sendiri dengan pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa.

Dalam lingkungan belajar yang tidak dibahas secara detail oleh peneliti, penulis menganalisis bahwa setiap individu itu sendiri (dalam hal ini subjek penelitian) memiliki respon yang berbeda terhadap stimulus-stimulus dari situasi dan kondisi dari lingkungan. Penulis menengarai bahwa individu tertentu akan tepat (cocok) bila menggunakan cara belajar,teknik belajar,tempat belajar,waktu belajar,dsb (variabel lingkungan belajar dalam jurnal tesis di tabelkan pada table 1.1 yakni distribusi lingkungan belajar murid) dengan salah satu tipe akan dapat berkembang secara optimal prestasi belajarnya dan akan berbeda tipe dengan individu lainnya.

Maksud penulis disini adalah jika seorang siswa cocok menerapkan variabel-variabel lingkungan belajar dalam kategori A, belum tentu akan cocok atau akan mampu mengembangkan potensi siswa lainnya dalam memaksimalkan prestasi belajarnya. Maka dari itu penarikan kesimpulan atas skor ini cenderung bias. Maka sangat wajarlah bila akhirnya terjadi bias dalam penelitian ini. Penulis melakukan perubahan konsep garis besar dari jurnal tesis peneliti (bagan terlampir).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kritik Penulis Terhadap Jurnal Tesis Peneliti

Penggunaan kata inteligensi pada judul jurnal tesis peneliti dirasa penulis kurang tepat ditinjau dari penalaran yakni dimulai dari bagian awal meliputi latar belakang, pendahuluan, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis dan bagian-bagian lainnya, mengingat bahwa pada kesimpulan dicantumkan penggantian makna inteligensi menjadi IQ yang dimaksud oleh peneliti, sebaiknya diberi penjelasan dari bagian terdahulu. Hal ini untuk mengantisipasi bertambahnya kesalahan persepsi pada konsep inteligensi dengan konsep IQ. Seperti yang telah dijelasakan pada bagian review materi, istilah IQ seringkali disamakan sebagai singkatan dari inteligensi. Hal ini merupakan miskonsepsi yang terlanjur populer, sehingga perlu ditinjau kembali konotasi umum dari konstruk ”inteligensi”. IQ tidaklah sama dengan inteligensi.

Kaitannya dengan bagian tinjauan pustaka (BAB II) yakni dari definisi operasional dari inteligensi itu sendiri terlalu sempit dipaparkan, kurang adanya penjelasan mengenai perspektif peneliti terhadap variabel inteligensi yang akan diteliti. Diperlukan definisi yang lebih terperinci disertai penggololngan dari inteligensi itu sendiri guna memberikan informasi yang sesuai dan tepat.

Perlu adanya penelitian terhadap faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar,pengujian signifikansi fator-faktor tersebut (korelasinya) kemudian diakumulasikan hingga mendekati taraf total 100%. Selain itu dilihat dari sampel penelitian yang dapat ditinjau lebih umum (tidak hanya 2 sekolah saja), dari berbagai lokasi (misalnya dalam pembagian wilayah kota-desa , daratan rendah-daratan tinggi,dsb.) sehingga lebih dapat digeneralisasikan dan juga dapat dianalisis lebih dalam mengenai perbandingan pembagian tersebut, serta diperoleh suatu kesimpulan baru,pernyataan baru yang akan menimbulkan minat lebih dari peneliti-peneliti lain yang akan lebih termotivasi untuk mengkaji lagi seluk beluk antara faktor-faktor yang berhubungan dengan prestasi belajar.

Hal tersebut tentunya akan menghasilkan pemikiran-pemikiran baru bahkan melahirkan teori-teori baru yang akan sangat bermanfaat bagi berbagai bidang yang telah disebutkan.

Perlu adanya penarikan garis besar seperti yang telah dijelaskan pada bagian analisa (pembahasan penulis). Kemudian pengulangan jenis variabel lingkungan belajar yang dilakukan dua kali (teknik belajar) memacu bias itu sendiri. Sangat banyak faktor-faktor penyebab bias yang ditemukan oleh penulis dari jurnal tesis peneliti, sehingga perlu adanya penelitian perbaikan/lanjutan sebagai antisipasi atas bias penelitian ini.

3.2 Saran Penulis Terhadap Jurnal Tesis Peneliti

Disarankan penggunaan sampling yang tepat sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan, yakni dengan pengambilan sample yang lebih representative. Kemudian lebih adanya tinjauan kembali mengenai tinjauan pustaka dikaitkan dengan aspek-aspek yang akan diuji di dalam penelitian. Perlu adanya pendalaman mengenai variabel-variabel yang digunakan dan ditetapkan. Analisi lebih dalam diperlukan serta antisipasi pengaruh juga validitas sehingga hasil penelitian tidak bias berulang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: