Just another WordPress.com site

 

Konsep-Konsep Dasar Teori Pembelajaran-Sosial

Untuk memahami teori pembelajaran-sosial Rotter, kita harus lebih dahulu mendeskripsikan prinsip-prinsip yang terbangun. Empat konsep pokok adalah potensi perilaku, harapan, nilai penguatan, dan situasi psikologis. Dua konsep luas akan didiskusikan, yakni: kebebasan gerakan dan level tujuan kecil. Empat variable dalam memprediksi perilaku adalah :

1. Potensi Perilaku

Potensi perilaku mengacu pada kemungkinan bahwa perilaku tertentu akan terjadi dalam sebuah situasi tertentu. Kemungkinan itu harus ditentukan dengan referensi pada penguatan atau rangkaian penguatan yang bisa mengikuti perilaku itu. Terdapat persamaan dengan pandangan-pandangan Skinner dalam konsep ini; Rotter berusaha untuk memprediksi kemungkinan bahwa seseorang akan berperilaku dalam hal tertentu dengan keberadaan variabel-variabel khusus. Formulasi Rotter berjalan melebihi formulasi Skinner di mana ia memunculkan variabel-variabel internal dan kognitif, selain variabel-variabel lingkungan, untuk memprediksi perilaku itu.

Konsep Rotter atas potensi perilaku adalah relatif. Beliau berusaha untuk memprediksi kemungkinan kejadian perilaku khusus yang berhubungan dengan perilaku lain yang dapat ditampakkan oleh individu dalam situasi itu. Apa yang menyebabkan individu untuk menyeleksi satu perilaku bukan lainnya? Pilihannya didasarkan pada kesan subyektif seseorang terhadap situasi itu. Potensi perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh apa yang ada di luar (seleksi kesadaran dari alternatif-alternatif perilaku yang tersedia dari sudut pandang persepsi kami atas situasi itu).

Definisi Rotter mengenai perilaku berbeda dari definisi Skinner. Skinner hanya berhadapan dengan kejadian-kejadian yang diobservasi secara obyektif. Pandangan Rotter mengenai perilaku tidak hanya mencakup tindakan-tindakan yang dapat diobservasi secara langsung, namun juga tindakan-tindakan yang tidak dapat diobservasi secara langsung – proses internal dan kognitif kami. Bagi Rotter, proses-proses tersebut mencakup variabel “rasionalisasi, penindasan, alternatif-alternatif pertimbangan, perencanaan, dan reklasifikasi” yang dianggap bukan sebagai perilaku oleh para behavioris yang lebih ekstrim.

Rotter menegaskan, perilaku internal atau implisit dapat diobservasi dan diukur melalui cara-cara tak langsung, seperti penarikan kesimpulan dari perilaku yang jelas.

Perhatikan perilaku dalam menguji solusi alternatif terhadap sebuah masalah. Perilaku ini dapat ditarik kesimpulannya dari observasi perilaku subyek yang berusaha untuk menyelesaikan sebuah tugas yang diberikan. Jika, misalnya, subyek itu membutuhkan waktu berlebih untuk memecahkan masalah daripada yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah awal, maka Rotter merasakan bahwa hal ini adalah bukti perilaku yang mempertimbangkan solusi-solusi alternatif.

Investigasi obyektif atas aktivitas kognitif dan internal adalah sulit. Rotter mengakui hal ini, namun ia juga percaya bahwa prinsip-prinsip yang mengatur kejadian perilaku implisit itu tidaklah berbeda dari prinsip yang mengatur perilaku yang diobservasi secara jelas dan langsung. Dan kita harus ingat bahwa variabel-variabel internal dan eksternal adalah diperlukan untuk menentukan potensi perilaku itu.

2. Expectancy(pengharapan)

Expectancy (pengharapan) merupakan konsep utama yang kedua dari Rotter, menjelaskan tentang kepercayaan individu bahwa dia berperilaku secara khusus pada situasi yang diberikan yang akan diikuti oleh penguatan yang telah diprediksikan. Kepercayaan ini berdasarkan pada pola atau probabilitas atau kemungkinan penguatan yang akan terjadi. Tingkat harapan ini ditentukan oleh beberapa factor.

Satu factor yang mempengaruhi expectancy/pengharapan adalah keaslian reinforcement sebelumnya untuk perilaku-perilaku yang terjadi pada situsi-situasi itu. Apakah reinforcement diberikan hanya sekali atau ratusan kali?Apakah reinforcement ini terjadi kemarin atau satu tahun yang lalu?apakah orang-orang diberi reinforcement selalu atau hanya sekali-kali ketika perilaku tersebut terjadi? Karena itulah expectancy dipengaruhi oleh sejarah reinforcement kita.

Factor lain yang mempengaruhi expectancy adalah luasnya generalisasi dari situasi-situasi penguatan yang sama (tetapi tidak serupa). Apakah urutan tingkatan perilaku yang akan dilalui dan reinforcement mempengaruhi situasi yang lain. Generalisasi pengharapan adalah sesuatu yang sangat penting ketika kita menghadapi situasi yang baru. Bagaimana kita dapat memprediksi apakah perilaku kita akan mempengaruhi pemberian reinforcement jika kita belum pernah mengalami situasi itu sebelumnya. Kita hanya dapat mengatur harapan kita sesuai dengan apa yang telah terjadi pada kita pada waktu yang lalu pada situasi yang sama.

Contohnya pikiran seseorang yang berlari memutari halaman 100 yard untuk pertama kali. Apakah harapannya untuk memenangkan perlombaan itu? Menurut Rotter hal ini tidak dapat didasarkan pada pengalaman yang lalu, tetapi hal ini dapat didasarkan pada generalisasi dan partisipasi dari kegiatan atletik yang lainnya. Seberapa bagus dia akan melakukannya. Perlombaan yang lain atau pertemuan renang. Ketika dia berlari memutari halaman 100 yard beberapa kali, harapannya untuk menang dapat dipengaruhi oleh atau berdasarkan pada pengalaman yang terjadi pada masa lalu, karenanya tidak perlu lagi menyamaratakan/menggeneralisasikan pengharapan pada situasi yang sama.

Kita kemudian akan mendiskusikan bentuk dari penggeneralisasian harapan. Bagian dari kepribadian dan pandangan terhadap hidup.yang mana penerapan untuk semua situasi dapat kita pertemukan, disebut dengan Lokus kontrol internal Vs ekternal. Variabel kepribadian ini menjelaskan tentang kepercayaan kita bahwa penguatan yang terjadi pada umumnya bersamaan atau jauh dari kontrol kita. Konsep ini tidak hanya mempengaruhi harapan kita tetapi pada kesehatan mental kita juga.

3. Nilai penguatan(reinforcement value)

Konsep ketiga dari teori Rotter adalah nilai penguatan(reinforcement value), yang mana merupakan penjelasan mengenai tingkat pilihan untuk satu reinforcement sebagai ganti yang lain. Jika seseorang berada pada situasi yang sama dimana situasi ini memungkinkan dapat terjadinya satu dari beberapa reinforcement, berapa banyak orang-orang yang akan memilih satu reinforcement sebagai ganti yang lain??

Orang-orang membedakan bentuk daripada penguatan yang mereka temukan. Sekalipun tidak ada keraguan setiap orang akan setuju bahwa membaca buku ini adalah reinforcement yang tinggi. Kamu akan berbeda dengan teman sekelasmu mengenai berapa banyak kamu memilih aktifitas lain dan reinforcement yang dibawa aktifitas itu. Beberapa anak akan memilih disco dan yang lainnya akan memilih sympony. Beberapa anak akan memilih football dan yang lainnya akan memilih soccer. Setiap orang menemukan penguatan yang berbeda nilainya pada aktifitas yang berbeda-beda.

Pilihan ini berasal dari pengalaman kita yang menghubungkan reinforcement masa lalu dengan yang terjadi saat ini. Berdasarkan hubungan ini, berkembang pengharapan untuk masa depan. Karena itulah terdapat hubungan antara konsep pengharapan dan nilai penguatan (Reinforcement value).

Rotter berpendapat bahwa hubungan ini ”secara sistematis berdiri sendiri”,dengan kata lain hubungan itu tidak diperlukan tetapi dapat dilihat sebagai hubungan secara empiris karena orang-orang telah mendapatkan hubungan dari pengalamannya masa lalu. Dia menambahkan bahwa kedua variabel ini dapat berperan sebagai isyarat untuk yang lain, dalam kondisi-kondisi tertentu.

Rotter mengajukan contoh seseorang yang membeli tiket untuk penjualan barang dengan undian dimana hadiahnya adalah mobil baru. Reinforcement yang mungkin adalah anggapan yang sangat mengenai murahnya harga tiket. Karena ini tingginya nilai penguat ini merupakan hal yang tidak biasa. Sebagian banyak orang akan memiliki harapan yang kecil untuk menang, karena hanya sedikit orang yang mempunyai pengalaman memenangkan sesuatu yang nilainya seperti itu. Bagaimanapun banyak orang yang yang memenangkan item-item dengan nilai reinforcement yang lebih rendah. Karena itulah harapan kita untuk memenangkan sesuatu lebih besar ketika nilai reinforcement hadiahnya lebih rendah/kecil. Pada masalah ini kemudian ekspectancy dipengaruhi oleh nilai penguat.

4. Situasi Psikologis

Situasi psikologis adalah konsep dasar keempat dari teori sosial belajar Rotter, dan ini merupakan hal yang penting dalam menentukan perilaku. Rotter percaya bahwa kita secara terus menerus memberikan reaksi pada lingkungan internal maupun lingkungan eksternal kita. Selanjutnya masing-masing lingkungan ini secara konstan saling mempengaruhi yang lain. Kita tidak hanya merespon stimulus eksternal saja tetapi juga kedua lingkungan. Penggabungan inilah yang disebut Rotter dengan situasi psikologis. Situasi dipertimbangkan secara psikologis karena kita mereaksi lingkungan ini berdasarkan pola-pola persepsi kita terhadap stimulus eksternal.

Rotter berpendapat bahwa semua situasi mengandung ciri-ciri yang mengindikasikan kepada kita (berdasarkan pengalaman masa lalu kita) harapan mengenai adanya penguatan untuk berperilaku dengan cara khusus. Contohnya, orang yang oleh para ahli teori Freud disebut sebagai kepribadian anal-agressive. Dalam pendekatan sifat (trait) atau inti (core), orang tersebut akan diprediksikan berperilaku agressive dalam semua keadaan. Rotter berpendapat bahwa perilaku orang akan bermacam-macam sesuai dengan situasi yang ada. Orang tidak akan berperilaku agresiv jika tanda-tanda situasi yang ada mengindikasikan bahwa dia akan dihukum dengan serius karena menunjukkan tindakan yang agressi.

Rotter tidak hanya mengkritik pakar teori inti yang semata-mata menekankan pada lingkungan internal, tetapi juga mengkritik pakar teori behavior, seperti skinner yang hanya memusatkan pada lingkungan eksternal. Dengan mengabaikan lingkungan internal pengharapan dan variabel kognitif lainnya, pakar teori behavior tidak mengindahkan kemungkinan bahwa stimulus dapat memiliki dampak yang bermacam-macam terhadap perilaku pada situasi yang berbeda.

Contohnya pikiran pengkoleksi senapan yang menguji taksiran senjata didinding persembunyiannya dan menyalakan beberapa jenis senjata yang telah dia gunakan untuk menjambret di lorong yang gelap. Stimulus fisik untuk kedua kasus ini sama, tetapi situasi psikologis (persepsi terhadap stimulus) kelihatan sangat menyolok perbedaannya. Sebagai hasilnya perilaku-perilaku dalam dua situasi akan berbeda

RUJUKAN:

Schultz, Duane. 1981. Theories of Personality. California: Brooks/Cole Publishing Company

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: