Just another WordPress.com site

BAB I

PENDAHULUAN

Review Projective Techniques

Pada dasarnya terdapat dua macam jenis tes dalam psikologi. Kedua tes tersebut yaitu tes mengungkap aspek kognitif dan aspek kepribadian. Tes kepribadian itu sendiri dibagi menjadi dua bagian yakni tes objektif dan proyektif. Dalam tes-tes kepribadian dengan pendekatan proyektif, individu memberikan respon pada stimulus yang tidak terstruktur dan ambigu, dimana hal ini berbeda dengan tes objektif yang memuat beberapa pertanyaan berstruktur. Sehingga diharapkan dengan menggunakan tes proyektif, individu secara tidak sadar akan mengungkap dan menggambarkan struktur dan dinamika kepribadiannya.

1.1 Pelopor Tes Proyektif

Dalam tes proyektif, eksternalisasi aspek-aspek psikis terutama aspek-aspek ketidaksadaran ke dalam suatu stimulasi/rangsang yang kurang atau tidak berstruktur yang sifatnya ambigious agar dapat memancing berbagai alternatif jawaban tanpa dibatasi oleh apapun. Pelopor tes proyektif adalah bermula dari konsep proyeksi : Freud (1894) Istilah proyeksi pertama dikemukakan oleh Freud pada awal tahun 1894 dalam tulisannya “The Anxiety Neurosis” yang mengatakan bahwa “jiwa manusia memiliki potensi untuk mengembangkan kecemasan yang neurotis disaat dirinya merasa tidak mampu mengatasi rangsangan2 atau gairah seksualnya. Tahun 1896  dlm tulsannya Freud “On The Defense Neuropsychosis” menyampaikan bahwa mengenai konsep proyeksi. Scr eksplisit Freud mengatakan bahwa proyeksi merupakan proses pelampiasan keluar dorongan2, perasaan2, dan sentimen2 yang ada pada diri individu ke orla/dunia luar sbg proses yg sifatnya defensif dan individu tdk menyadari fenomena yang terjadi pd dirinya ini. Konsep proyeksi Freud serupa dgn konsep kompensasi dari Adler, yaitu prinsip inferioritas dan kompensasi). Sejak lahir manusia memiliki kelemahan, namun manusia tidak putus asa dengan cara melakukan kompensasi untuk menutupi kelemahan2nya. Bentuk kompensasi Adler ini sama dengan proyeksi. Dari pengertian Freud,Healy,Bronner & Brouer dapat dikatakan bahwa proyeksi merupakan salah satu bentuk MEKANISME PERTAHANAN DIRI. Konsep Proyeksi Freud lebih banyak dipakai pd bidang2 klinis. Oleh karna itu dlm menganalisis perilaku proyeksi biasanya mengarah pd hal2 yg bersifat klinis atau abnormal.  Kemudian berkembang tes proyektif untuk mengungkap kepribadian: Herman Rorschach pada tahun 1921 (Tes Rorschach), Murray pada tahun 1935 (Tes TAT), dst.

1.2 Klasifikasi dan Ciri-Ciri Teknik Proyektif

Klasifikasi Teknik Proyektif antara lain sebagai berikut :

Ø  ASSOCIATIVE TECHNIQUES : Subjek menjawab stimulus dengan perkataan, image, atau ide-ide yang pertama kali muncul. Ex : Rorschach Inkblots, Word Association.

Ø  CONSTRUCTION PROCEDURES : Subjek mengkonstruk atau membuat suatu produk (cerita). Ex : TAT, MAPS (Make a picture story).

Ø  COMPLETION TASKS : Melengkapi kalimat atau cerita. Ex : SSCT, Rosenzweig Picture-Frustation Study.

Ø  CHOICE OR ORDERING DEVICES : Mengatur kembali gambar, mencatat referensi atau semacamnya. Ex : Szondi Test, Tomkins-Horn Picture Arrangement Test.

Ø  EXPRESSIVE METHODS : Gambar, cara / metode dalam  menyelesaikan sesuatu dievaluasi. Ex : BAUM, HTP, DAP

Sedangkan ciri-cirinya adalah Stimulus tidak berstruktur,menggunakan proses proyeksi, administrasi longgar, testee oriented, unsur subjektifitas dalam interpretasi, dan  menyentuh bawah sadar artinya stimulusnya tidak terstruktur, memungkinkan subjek mempunyai alternatif pilihan jawaban yang banyak.  Stimulusnya ambiguous atau kabur, memungkinkan subjek merspon stimulus tersebut sesuai dengan interpretasinya masing-masing. Stimulusnya kurang mempunyai obyektiftas relatif, memunculkan inddifferences dari masing-masing subjek.  Global approach,menuntut kesimpulan yang luas.

 

1.3 Kelebihan dan Kekurangan Tes Proyektif

Ø  Kelebihan Tes Proyektif

  • Dapat mengungkap hal-hal di bawah sadar untuk keperluan klinis
  • Dapat menurunkan ketegangan
  • Bersifat ekonomis

Ø  Kekurangan Tes Proyektif

  • Validitas dan reliabilitasnya rendah
  • Tester harus memiliki keterampilan yang khusus untuk dapat menggunakan tes ini dalam kaitannya dengan ketepatan melakukan diagnosa

 

1.4 Jenis Tes Proyektif

Teknik proyektif yang banyak dikenal dan digunakan secara luas oleh ahli psikologi lainnya yaitu tes Rorschach, Thematic Apprtception Test (TAT), Children’s Apperception Test (CAT), tes Draw-A-Person (DAP), tes Make-A-Picture Story (MAPS), Michigan Pic ture Story Test, dan Sentence Completion Test.

a.       Thematic Apperception Test (TAT) : dikenal sebagai teknik interpretasi gambar karena menggunakan rangkaian standar provokatif berupa gambar yang ambigu dan subjek yang harus menceritakan sebuah cerita  dari gambar yang tertera. Subjek diminta untuk mengatakan sebagai sebuah cerita yang dramatis.

b.      CAT (Children’s Apperception Test) : bentuk lain dari TAT adalah CAT (Children’s Apperception Test), yang digunakan untuk anak-anak. CAT menampilkan sepuluh gambar binatang dalam konteks sosial manusia seperti memainkan game atau tidur di tempat tidur. Pada saat ini, versi ini dikenal sebagai CAT atau CAT-A (gambar binatang).

c.       Michigan Picture Story Test (MPST) : Tes ini hampir sama dengan kedua tes diatas dan terdiri dari material yang menggambarkan anak-anak dalam hubungannya dengan orang tua, polisi, dan figur otoriter lainnya, juga teman-teman. Tes ini sangat bemanfaat dalam melihat struktur dari sikap anak-anak terhadap orang dewasa dan teman-teman sekaligus mengevaluasi masalah yang mungkin timbul.

d.      Make-A-Picture Story (MAPS) : Tes ini juga hampir sama dengan MPST dalam interpretasi dan tujuan yang memiliki. Perbedaannya, individu boleh memilih karakter yang ada untuk membuat sebuah cerita berdasarkan situasi yang ada.

e.       Figure Drawing : dalam tes ini, kemampuan menggambar bukanlah faktor utama. Salah satu bentuk tesnya adalah Draw-A-Person (DAP), dimana individu diminta untuk menggambar seorang lelaki dan perempuan menggunakan pensil dan kertas.

f.       Incomplete Sentence Test : dalam metode proyektif ini, terdiri dari sejumlah kalimat tidak lengkap yang disajikan untuk dilengkapi.

Biasanya bukan merupakan tes standar dan tidak diperlakukan secara kuantitatif. Penting sebagai bahan pertimbangan dalam situasi klinis yang memiliki asumsi bahwa respon individu terhadap stimulus yang ambigu merupakan proyeksi dari hal-hal yang ada dalam ketidaksadaran. Respon yang diberikan subjek dapat memberikan gambaran area konflik, termasuk juga kelebihan dan kekurangan dari kepribadian subjek.

g.      Competency Screening Test : diberikan kepada individu yang menjadi terdakwa untuk mempelajari interscorer kehandalan dan validitas prediktif tentang status mental atau inteligensi individu terkait dengan kasus individu yang sedang terjadi. Tes juga secara signifikan membedakan antara individu yang dikategorikan oleh praktisi sebagai tidak berkompetensi secara mental dan yang dikategorikan sebagai kompeten dalam sidang kasus yang dijalani.

h.      The Rorschach Test : The Rorschach Test juga dikenal sebagai tes inkblot Rorschach atau sekadar tes Inkblot adalah sebuah tes psikologi di mana subjek mempersepsi sebuah bentuk gambar tinta yang dicatat dan kemudian dianalisis dengan menggunakan interpretasi psikologis. Beberapa psikolog menggunakan tes ini untuk memeriksa kepribadian seseorang baik karakteristik maupun fungsi emosional. Telah digunakan untuk mendeteksi gangguan pikiran yang mendasari individu, terutama dalam kasus-kasus di mana pasien tidak mau untuk menggambarkan proses berpikir mereka secara terbuka. Tes ini mengambil nama dari penciptanya yaitu Hermann Rorschach. Selain tes-tes yang disebutkan masih terdapat berbagai jenis tes lainnya.

BAB II

ISI

2.1 Analisis Jurnal Umum (Review)

Jurnal peneliti yang berjudul “ Hubungan Antara Hasil Tes Rorschach dengan Tes Pauli dalam Menggali Aspek Emosi Dari Kepribadian “ merupakan studi korelasional. Peneliti bertujuan untuk mendapatkan data mengenai hubungan antara data yang didapat dari tes Rorschach dan tes Pauli pada aspek emosi seorang individu. Di mana aspek emosi dalam tes Rorschach diindikasikan dengan jumlah respon warna dan respon gerak. Respon warna merupakan penggambaran respon yang diberikan individu terhadap stimulus emosi dari lingkungan. Respon gerak merupakan penggambaran kemampuan meregulasi dan mengarahkan emosi dan dorongan yang dikaitkan dengan nilai-nilai sosial. Sementara tes Pauli menggali aspek-aspek psikologis individu selama bekerja terutama aspek motivasi dan emosi. Dalam tes Pauli, aspek emosi menjadi salah satu faktor yang mewarnai sikap kerja seseorang dalam konteks kerja serta dapat dilihat mengenai pengendalian perasaan dan suasana hati selama bekerja.

Dalam jurnal peneliti, penulis memperoleh rumusan masalah sebagai berikut :

1.      Apakah sebenarnya ada hubungan antara aspek emosi yang tergali dari hasil tes Rorschach dengan yang tergali dari hasil tes Pauli ?

2.      Jika memang ada hubungan, apakah hubungan itu signifikan? Atau saling bertentangan?

Berdasarkan rumusan masalah di atas, peneliti melakukan tinjauan pustaka mengenai tes Rorschach dan tes Pauli khususnya aspek emosi yang tergali dari kedua tes tersebut.

Dalam metode penelitian perihal sampel penelitian, peneliti menggunakan data sekunder yakni mahasiswa volunteer di Bandung yang bersedia mengikuti pemeriksaan psikologis. Jumlah sampel penelitian adalah 300 orang yang dipilih secara acak dengan pertimbangan kelayakan dan kelengkapan data. Alat ukur yang digunakan adalah tes Rorschach dan tes Pauli di mana dari tes Rorschach, data yang diambil adalah skor yang berhubungan dengan warna (C) sedangkan data yang diambil dari tes Pauli adalah nilai simpangan total yang dinyatakan dalam bentuk persentase. Pengolahan data secara statisik yakni untuk mengukur nilai hubungan antara data yang dibandingkan mencakup signifikan tidaknya hubungan yang ada dinyatakan dalam nilai koefisien,

Dengan hipotesis penelitian dalam jurnal yakni : “Indikator penilaian aspek emosi pada tes Rorschach (dilihat dari jumlah respon yang mengandung warna dan gerakan) berkolerasi dengan indikator penilaian aspek emosi pada tes Pauli (dilihat dari besarnya nilai simpangan)“ . Penulis menjabarkan hipotesa dari rumusan masalah untuk memudahkan menganalisis hipotesis penelitian yang telah tersurat pada jurnal,sebagai berikut :

ü  Hipotesis Mayor

Ho : Tidak ada hubungan antara aspek emosi yang tergali dari hasil tes Rorschach dengan yang tergali dari hasil tes Pauli.

Ha : Ada hubungan antara aspek emosi yang tergali dari hasil tes Rorschach dengan yang tergali dari hasil tes Pauli.

ü  Hipotesis Minor

Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara aspek emosi yang tergali dari hasil tes Rorschach dengan yang tergali dari hasil tes Pauli (saling bertentangan).

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara aspek emosi yang tergali dari hasil tes Rorschach dengan yang tergali dari hasil tes Pauli (tidak saling bertentangan).

Keseluruhan nilai korelasi dihitung dan diinterpretasikan berdasarkan signifikasi korelasi Spearman 2 arah yang dilanjutkan dengan penafsiran berdasarkan kriteria Guilford untuk kualitas korelasi yang didapat.

Berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal peneliti, disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara indikaator emosi pada tes Rorschach dengan indikator emosi pada tes Pauli yang bila dipahami ternyata didasari oleh pengaruh stimulasi yang berbeda, di mana pada tes Rorschach lebih dilandasi oleh pengaruh stimulasi eksternal sedangkan pada tes Pauli lebih mengarah pada stimulasi internal. Hasil penelitian ini mengarahkan kepada para psikolog untuk memandang kedua tes tersebut sebagai hal yang saling melengkapi.

2.2 Analisis Jurnal Spesifik (Pembahasan Penulis)

2.2.1 Tes Rorschach

2.2.1.1 Sejarah Tes Rorschach

Tes atau teknik Rorschach memang merupakan tes proyeksi yang menggunakan stimulus bercak tinta yang paling populer di antara tes bercak tinta lainnya, baik sebelum Rorschach melaporkan hasil penelitiannya maupun sesudahnya. Adapun sejarah perkembangan teknik bercak tinta dari Rorschach ini, dibagi menjadi tiga periode, yaitu:

Ø  Periode sebelum Rorschach

Orang  yang pertama kali tercatat sebagai ahli yang menaruh perhatian terhadap bercak tinta adalah Justinus Kerner. Dengan tulisannya yang berjudul Kleksographein yang terbit pada tahun 1857, di Tubingen-Jerman, Justinus Kerner dapat  dipandang sebagai pelopor dalam bercak tinta. Kerner lebih banyak menaruh perhatian pada pengaruh dari bercak tinta terhadap respon yang diberikan subjek. Pada tahun 1895, Alfred Binet yang dikenal dalam bidang tes intelegensi menyarankan bahwa bercak tinta dapat digunakan untuk menyelidiki imajinasi visual seseorang. Setahun kemudian 1896, Dearborn dari Harvard University menulis artikel yang menceritakan bagaimana cara membuat bercak tinta, baik yang hitam-putih maupun yang berwarna. Ahli lain yang bernama Kirkpatrick (1900) memberikan bercak tinta pada anak-anak dan menggabungkan dengan tes lain. Pada tahun 1910, Whipple orang pertama yang menerbitkan satu seri bercak tinta yang sudah distandardisir dan dilengkapi dengan buku petunjuk (manual). Tetapi alat yang dibuat Whipple ini hanya dapat digunakan untuk mengetahui imajinasi subjek saja. Pada tahun berikutnya perkembangan bercak tinta sudah agak maju. F.C. Barlet (1916) dari Cambridge University menggunakan bercak tinta sebagai bagian dari perlengkapan tesnya untuk mempelajari persepsi dan imajinasi. Tahun 1917, Cicely Parson dari University College of South Wales melakukan penelitian pada murid-murid sekolah dasar dan menengah dengan menggunakan bercak tinta dari Whipple.

Ø  Periode Rorschach

Eksperimen Hermann Rorschach : Rorschach menulis bahwa dia telah menyeleksi satu seri bercak tinta yang terdiri dari 10 kartu dari beribu-ribu kartu yang telah dicobakan. Tidak semua pola yang dibuat dapat diuji cobakan, paling tidak harus memenuhi 2 persyaratan, yaitu: Bentuk gambar tersebut relative simple dan distribusi bercak harus memenuhi persyaratan komposisi tertentu. Subjek eksperimen Rorschach sebagian besar memang adalah para penyandang masalah kejiwaan. Tetapi Rorschach juga menggunakan subjek orang-orang normal, baik yang berpendidikan maupun tidak berpendidikan. Menurut Klopfer (1962) tekniik bercak tinta yang disusun oleh Rorschach merupakan titik puncak keberhasilan dari peneliian-penelitian yang menggunakan bercak tinta selama 20 tahun di Eropa dan Amerika. Yang paling berperan adalah fungsi persepsi (Rorschach, 1981). Rorschach lebih menekankan untuk memahami bagaimana seseorang menghayati sesuatu, kurang mementingkan apa isi penghayatannya. Kalau ada orang yang mengalami ketakutan, atau kecemasan, bukan isi ketakutan atau kecemasan itu yang dilihat, tetapi bagaimana dia mengahayati kecemasan itu sebagai suatu gejala psikologis, bagaimana hubungannya dengan fungsi-fungsi psikologis yang lain.

Ø  Periode sesudah Rorschach : Tes Rorschach sudah mengalami banyak penyempurnaan yang di lakukan oleh para ahli sesudah Rorschach. Pada tahun 1924 tulisan Rorschach bersama asistennya, Emil Obelholzer. Dalam tulisan itu dijelaskan mengenai analisis yang dilakukan dalam teknik Rorschach dan juga didemonstrasikan cara penyekoran serta interpretasinya. David Levy memperkenalkan tes Rorschach di Amerika. Samuel Beck, menerbitkan bercak tinta untuk tes Rorschach dan juga mengembangkan metode interprestasi yang masih dipakai sampai sekarang. Hertz banyak mengadakan penelitian tentang aspek-aspek metodologis dalam tes Rorschach. Bruno Klopfer mengembangkan tes Rorschach. Pada tahun 1934 telah mengembangkan ide-ide Rorschach dalam kelompok studinya. Pada tahun 1936 Klopfer dkk mendirikan Rorschach Institute sebagai lembaga melatih para para ali untuk menggunakan tes Rorschach. Pada tahun 1948 Rorschach Institute berubah menjadi The Society for Projective Technique, yang menerbitkan TAT (Thematic Apperception Test) dan tes proyektif lainnya. d)     Holtzman Ink Blot Technique, dirancanh oleh Holtzman untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan metodologi dan tes Rorschach Penerapan tes Rorschach sebagian besar di bidang klinis, baik di rumah sakit maupun di klinik psikiatris dan psikologis. Tetapi tes Rorschach juga bisa menjadi terapi, ada testi yang mengatakan ketika selesai menjalani tes ini testi merasa lega dan hilang beban pikiran dan emosionalnya. Teknik Rorschach juga banyak digunakan di luar bidang klinis. Misalnya di bidang militer dan industri, tes Rorschach banyak digunakan sebagai alat seleksi. Temasuk pengguna tes Rorschach secara kelompok (Williams & Kellman, 1962).

2.2.1.2  Aspek Tes Rorschach

Aspek kepribadian : dalam mendekati kepribadian, Rorschach berusaha melihat secara menyeluruh (global approach). Suatu fungsi psikologis tertentu selalu dilihat dalam kaitannya dengan fungsi psikologis yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa tes Rorschach dapat mengungkap seluruh kepribadian seseorang.

Menurut Klopfer (1962) kepribadian manusia itu adalah sedemikian kompleksnya, sehingga tidak akan mungkin dapat dilihat secara utuh hanya dengan menggunakan satu alat tes saja.

Hasil tes Rorschach hanyalah salah satu frame of reference dalam melihat kepribadian. Hasil tes Rorschach juga dapat melengkapi hasil dari tes objektif, misalnya tes intelegensi. Karena tes Rorschach juga dapat memprediksikan taraf dan fungsi intelegensi seseorang, maka hasil tes objektif akan dapat menjadi referensi yang perlu diperhatikan. Aspek-aspek yang diungkap melalui tes Rorschach dapat dibagi dalam tiga aspek pokok, yaitu: (a) aspek kognitif, (b) aspek afektif atau emosional, dan (c) aspek fungsi ego.

 

 

2.2.1.3  Skoring Tes Rorschach

Tujuan dari skoring dalam tes Rorschach tidak lain adalah:

Ø  Untuk engelompokkan bahan dari hasil tes Rorschach ke dalam aspek-aspek tertentu, agar dapat diinterpretasi.

Ø  Untuk merubah jawaban yang masih bersifat kualitatif menjadi bahan kuantitatif.

Ø  Sebagai sarana komunikasi antara ahli satu dengan lainnya.

Pada prinsipnya skoring yang dimaksudkan disini adalah merupakan suatu proses pengelompokkan jawaban subjek ke dalam 5 kategori skoring yaitu:

  • Location: pada bagian mana subjek melihat konsepnya itu dalam bercak.
  • Determinant: yaitu bagaimana konsep itu dilihat subjek, atau aspek apa yang digunakan subjek untuk memberikan jawabannya itu.
  • Content : yaitu apa isi jawaban subjek tersebut.
  • Popular-Original (P-O) : yaitu apakah jawaban subjek itu merupakan konsep yang sering dilihat orang lain ataukah tidak
  • Form Level Rating (FLR) : yaitu bagaimana ketepatan konsep tersebut dengan bercaknya serta bagaimana kualitasnya.

SKORING LOCATION

Jawaban Whole : jawaban ini terdiri dari skor W (Whole) ,W (Whole-cut), DW (Confabulatory whole) dengan penjelasan sebagai berikut :

  • Skor W (whole) : skor ini diberikan bila subjek menggunakan seluruh bercak sebagai dasar untuk memberikan jawabannya.
  • Skor W-cut (whole cut) : skor ini diberikan bila subjek menggunakan paling tidak dua pertiga dari bercak. Subjek tidak bermaksud menggunakan seluruh bercak. Ada sedikit bagian yang dihilangkan karena tidak sesuai dengan konsepnya.
  • Skor DW atau dW (Confabulatory whole) : skor DW diberikan apabila subjek mengguanakn suatu detail kemudian digeneralisasikan pada seluruh bercak.

SKORING DETERMINAT : Jawaban Definite : yaitu konsep jawaban yang mempunyai bentuk yang pasti. Jawaban Semi-definite : yaitu suatu konsep jawaban yang mempunyai bentuk kurang pasti. Jawaban In-definite : yaitu konsep jawaban yang sama sekali tidak mempunyai bentuk yang pasti atau bentuknya. Ada empat unsur yang termasuk dalam kategori skoring determinant ini, yaitu:.form (bentuk), movement (gerakan), shading (perbedaan gelap terang), dan color (Warna).

SKORING CONTENT : menentukan apa isi jawaban subjek. Skoring content ini memang tidak begitu sukar, karena sudah jelas dan kategorinya tidak terlalu rumit.

SKORING P-O (POPULAR-ORIGINAL) : Skoring Popular yakni suatu jawaban disebut popular bila jawaban tersebut sering muncul atau diberikan oleh banyak subjek pada suatu lokasi bercak tertentu. Jawaban Original yakni jawaban original yang diskor O adalah pada satu bagian bercak tertentu yang hanya muncul sekali diantara seratus jawaban.

SKORING FLR (FORM LEVEL RATING) : Dasar penyekoran FLR, yaitu: ketepatan (akurasi), kekhususan (spesifikasi), pengorganisasian (organisasi)

 

2.2.2 Tes Pauli

2.2.2.1  Sejarah Tes Pauli

Tes Pauli diciptakan oleh : Richard Pauli. Tes Pauli merupakan penyempurnaan dari tes Kraeplin . Prinsip utama dari tes Pauli adalah tiap manusia itu mampu belajar dan berlatih . Meskipun tes Pauli banyak mengukur sikap kerja namun tes Pauli tetap digolongkan tes kepribadian karena unsur yang paling kuat dalam tes Pauli adalah kemauan. Mau merupakan unsur dari watak/ karakter/ kepribadian seseorang. Dan masalah kepribadian tidak lain adalah merupakan masalah dinamika motif.

2.2.2.2 Aspek Tes Pauli

Adapun enam aspek dari tes Pauli untuk mengungkap potensi kerja yang digunakan yaitu:

a.       Energi Psikis (Jml)  : Energi psikis mengungkap besarnya potensi energi kerja, terutama ketika dibawah tekanan.

b.      Ketelitian dan Tanggungjawab (Be) : Ketelitian dan tanggungjawab menunjukkan adanya kesediaan bertanggungjawab, teliti, kepedulian, akan tetapi dapat berarti pula mudah dipengaruhi, labil, kurang waspada.

c.       Kehati-hatian (Sa) : Kehati-hatian menunjukkan adanya kecermatan, hati-hati, konsentrasi, kesiagaan dan kemantapan kerja terhadap pengaruh tekanan.

d.      Pengendalian Perasaan (Si) : Pengendalian perasaan menunjukkan adanya ketenangan, penyesuaian diri, keseimbangan dan sebaliknya dapat berarti menggambarkan penuh temperamen, mudah terangsang, dan cenderung egosentris.

e.       Dorongan Berprestasi (Ti)  : Dorongan berprestasi menggambarkan kesediaan dan kemampuan berprestasi, serta kemauan untuk mengembangkan diri.

f.       Vitalitas dan Perencanaan (TP) : Vitalitas dan perencanaan menunjukkan ambisi untuk mengarahkan diri, dan mengatur kemampuan dalam mengatur tempo dan irama kerja.

2.2.2.3  Interpretasi atau Diagnosis Tes Pauli

Kesiap-siagaan : titik awal  ,Penyesuaian diri : jumlah keseluruhan dan grafik keseluruhan , Stabilitas emosi : penyimpangan , Daya tahan : jumlah keseluruhan dan jalannya grafik secara keseluruhan, Energi kerja : jumlah keseluruhan , Ketelitian : jumlah kesalahan dan jumlah pembetulan , Konsentrasi : jumlah keselurhan, jumlah kesalahan dan jumlah pembetulan , Kemauan : jumlah keseluruhan dan jalannya grafik, Pengarahan energi kerja : titik akhir harus lebih tinggi dari titik awal

2.2.2.4 Penyimpangan Tes Pauli

Dalam jurnal peneliti,aspek emosi didalam tes Pauli dilihat berdasarkan nilai simpangan. Penulis menjabarkan mengenai interpretasi tes Pauli berdasarkan nilai penyimpangan sebagai berikut :

Penyimpangan

Rendah Tinggi
Positif:

  • Adanya keseimbangan.
  • Emosi stabil.
  • Dapat menyesuaikan diri.
  • Kapasitas mental baik.

Negatif:

dengan slope rendah pada awal kurva,

  • Ketumpulan emosi.
  • Emosi rigid, kurang bersemangat
Positif:

  • Emosional, bergejolak.
  • Dinamis.
  • Dikuasai oleh emosi/perasaan.

Negatif:

  • Lemah.
  • Temperamental.
  • Kontrol diri rendah.

2.2.2.5  Penghitungan Penyimpangan Tes Pauli

Ø  Penghitungan menggunakan bolpen biru

Ø  Hitung hanya pada kolom ke-3 sampai ke-18

Ø  Cari selisih antara grafik dasar (warna biru/ hitam untuk dewasa) dengan grafik rata-rata (warna merah). Hasil merupakan bilangan mutlak dan tulis di atas tiap kolom

Ø  Cari rata-rata simpangan

å simpangan                100%

Si         = ———————– x

16 rerata

 

 

2.2.2.6 Kebermaknaan dan Keuntungan Tes Pauli

Makna Tes Pauli antara lain :

a.       Tes Pauli merupakan alat diagnostik yang dapat dipercaya untuk memeriksa batas-batas perbedaan individu.

b.      Tes Pauli dapat untuk mendiagnosis perbedaan kostitutif. Hal itu antara lain didapat dari hasil pemeriksaan yang menggunakan tes Pauli. Hasil itu antara lain menunjukkan bahwa daya tahan wanita lebih besar dari pria, keajegan prestasi orang desa lebih tinggi dari orang kota, dan sebagainya. Hal-hal tersebut juga menunjukkan bahwa tes Pauli bisa dimamfaatkan untuk pemahaman psikologi sosial.

 

c.       Tes pauli merupakan usaha pemeriksaan prestasi yang cukup baik.

d.      Tes Pauli dapat digunakan untuk orang yang menderita luka/gangguan diotak, misal terkena tembakan dikepala. Hasilnya menunjukkan bahwa luka pada “parietal” dan “frontal” menunjukkan kurangnya prestasi yang besar, sedang luka pada “occipital” menunjukkan kurangnya prestasi yang tak terlalu besar (paling minimal).

e.       Tes Pauli dapat digunakan sebagai metode untuk mengetahui pengaruh peransangan dari luar (misal narkotika).

f.       Tes Pauli dapat digunakan sebagai diagnostik untuk mendeteksi anak-anak yang sukar dididik. Pada tes itu terdapat kurve dengan bentuk-bentuk tertentu untuk mereka yang terhambat perkembangannya. Untuk mereka yang tidak mempunyai pendirian (Hatloso) dan mereka yang lemah diri.

g.      Tes pauli ini digunakan sebagai metode pemeriksaan untuk orang yang buta meskipun prestasinya bila dibandingkan dengan orang yang normal berkurang, akan tetapi prestasi individuil masih terlihat didalam tes sebagai prestasi orang yang normal.

h.      Tes Pauli digunakan sebagai dasar tipologi kepribadian.

i.        Tes Pauli ialah suatu metode experimental untuk mendapat pengaruh sikap kerja terhadap prestasi kerja.

j.        Tes Pauli merupakan alat pembantu experimental yang menjadi dasar untuk diagnostik karakterologi.

Salah satu segi keuntungan dari tes pauli adalah menghilangkan variabel penting yang biasanya dapat disembunyikan atau pura-pura (faking) dari subjek misal : sifat malu-malu, yang biasanya sukar dihindari, pada tes ini tidak begitu berpengaruh pada percobaan-percobaan yang telah dilakukan.

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kritik Penulis Terhadap Jurnal Peneliti

Dalam penulisan hal yang sangat penting dalam jurnal, perlu adanya koreksi dan ketelitian sehingga tidak terdapat kesalahan yang sangat besar dalam aspek variabel yang diuji (pengertiannya menjadi rancu).

Perlu adanya penggalian lebih dalam lagi dari segi atau aspek emosi yang dimaksud peneliti, sehingga dapat tersampaikan dengan baik. Validitas dan reabilitas dari satu unsur terkait unsure lainnya perlu diteliti dan dibahas lebih mendetail agar tidak menimbulkan kekeliruan interpretasi. Berbagai aspek emosi yang dikaitkan ditinjau kembali agar menghasilkan sesuatu yang belum diketahui secara umum.

Mengingat tes Rorschach memerlukan keahlian yang khusus sementara tes Pauli lebih dapat diantisipasi mengenai biasnya, maka hal ini perlu ditinjau kembali oleh peneliti.

 

3.2 Saran Penulis Terhadap Jurnal Peneliti

Seperti yang telah diketahui bahwa tes Rorschach dan tes Pauli memang tidak dapat disetarakan mengingat perbedaan konsep keduanya, terutama dalam penggalian aspek emosi, maka peneliti akan lebih mendapatkan hasil atau penemuan baru bila mengkaji dan melakukan analisis korelasi tes-tes psikologi yang dilandasi dengan stimulasi yang sama.

Meskipun penelitian mengkaji stimulus yang berbeda, namun jika penggunaannya dalam konsep dominasi yang setara, maka hal tersebut menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: