Just another WordPress.com site

TUGAS INDIVIDUAL SEMESTER IV

PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA – REVIEW JURNAL

Di buat dalam rangka memenuhi tugas perkuliahan self assessment ,

untuk mata kuliah Psikologi Lintas budaya

yang dibimbing oleh Ibu Dewi Puri Astiti

dalam materi Perkuliahan ”Budaya dan Psikologi Perkembangan”

JUDUL JURNAL

JURNAL 1 : Gaya Pengasuhan Orang Tua dalam Perkembangan Anak

Oleh : Syuul t. Karamoy

Jurnal FORMAS Universitas Negeri Manado Tahun 2008 : 7 halaman

JURNAL 2 :Pola Asuh Orang Tua Pada Subjek uang Menggunakan Napza

Oleh : Siti Maryam Rahmah

Jurnal (Studi Kasus) Universitas Gunadarma Tahun 2008 : 11 halaman

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

KETERANGAN JURNAL                …………………………………………………………………………………i

DAFTAR ISI                                       ………………………………………………………………………………..ii

BAB I PENDAHULUAN                  …………………………………………………………………………………1

1.1  Latar Belakang Penulis jurnal I     ………………………………………………………………………………….1

1.2  Latar Belakang Penulis jurnal II   ………………………………………………………………………………….1

1.3  Latar Belakang Penyusun (Pembuat Review-Analisis)    ………………………………………………….2

BAB II PEMBAHASAN      …………………………………………………………………………………………….4

2.1 Review Jurnal I     ……………………………………………………………………………………………………….4

2.1.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah Penulis Jurnal I         ……………………………………….4

2.1.2 Analisis Masalah dan Pembahasan Penulis Jurnal I ……………………………………….4

2.2 Review Jurnal II   ……………………………………………………………………………………………………….4

2.2.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah Penulis Jurnal II        ……………………………………….4

2.2.2 Analisis Masalah dan Pembahasan Penulis Jurnal II           ……………………………………….5

2.3 Kajian Teori , Analisis Masalah dan Pembahasan Jurnal oleh Penyusun  …………………………….5

2.3.1 Kajian Teori , Analisis Masalah dan Pembahasan Jurnal I oleh Penyusun  ………………….6

2.3.2 Kajian Teori , Analisis Masalah dan Pembahasan Jurnal II oleh Penyusun ……..15

2.4 Pendalaman Analisis Jurnal oleh Penyusun          …………………………………………………………..20

2.4.1 Analisis Perbandingan Jurnal I dan Jurnal II           ………………………………………………..20

2.4.2 Analisis Hubungan Jurnal I dan Jurnal II    …………………………………………………………..21

2.4.3 Analisis Keseluruhan Aspek Jurnal I dan Jurnal II Terkait Budaya            ………………..23

BAB III PENUTUP   ……………………………………………………………………………………………………..25

3.1 Kesimpulan dan Saran Penulis Jurnal       ……………………………………………………………………..25

3.1.1 Kesimpulan dan Saran Penulis Jurnal I        …………………………………………………………..25

3.1.2 Kesimpulan dan Saran Penulis Jurnal II      …………………………………………………………..25

3.2 Kritik dan Saran Penyusun Terhadap Penulis Jurnal I      ………………………………………………..26

3.3 Kritik dan Saran Penyusun Terhadap Penulis Jurnal II    ………………………………………………..27

DAFTAR PUSTAKA                        …………………………………………………………………………………………..28

LAMPIRAN JURNAL          …………………………………………………………………………………………..29

 

 

 

 

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penulis jurnal I

Latar belakang penulis jurnal pertama yang dipilih penyusun yakni jurnal FORMAS yang berjudul ”Gaya Pengasuhan Orang Tua Dalam Perkembangan Anak” adalah dimulai dari kajian secara mendalam mengenau kehidupan sehari-hari yang menghadirkan disparitas fenomena yang  menyiratkan banyak permasalahan yang terjadi dalam lingkup yang sangat kompleks. Fenomena – fenomena yang terjadi terkait perubahan masalah kehidupan dalam era globalisasi yang dikaitkan dengan upaya orang tua terhadap anak agar mereka memiliki kemampuan untuk mengantisipasi, mengakomodasi yakni dengan melatih dan mengembangkan emosi. Upaya ini menunjukkan perlu adanya peranan dan tanggung jawab orang tua yang berkewajiban meletakkan dasar-dasar emosional anak.

Menurut Dany (2004) dalam  materi perkuliahan psikologi lintas budaya, bahwa kecerdasan emosional meliputi kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi diri sendiri disamping kemampuan mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain sangat dipengaruhi oleh buadaya setempat. Gaya pengasuhan orang tua sangat mempengaruhi kecerdasan emosional anak. Maka dari itu, penulis membahas secara mendalam mengenai gaya pengasuhan anak meliputi konsep-konsep serta bentuk-bentuk gaya pengasuhan orang tua dan peranannya dalam mengembangkan kecerdasan emosianal anak.

1.2 Latar Belakang Penulis jurnal II

Latar belakang penulis jurnal kedua yang dipilih penyusun yakni jurnal (studi kasus) yang berjudul ”Pola Asuh Orang Tua pada Subjek yang Menggunakan Napza” adalah berawal dari banyaknya kasus yang terjadi perihal kasus kecanduan dan pengedaran Napza di mana remaja (generasi muda) secara dominan terlibat di dalamnya.  Penyalahgunaan Napza terjadi pada masa remaja melalui teman sebaya (peer group)  yang berawal dari pola pergaulan, gaya berteman, keinginan pribadi dan problem yang terjadi di masyarakat.

Mengingat dampak penggunaan Napza yang terburuk sering terjadi, yakni kematian, maka disimpulkan bahwa Napza dapat merusak dan membahayakan bagi generasi muda dalam suatu bangsa, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Berdasar atas permasalahan tersebut, penulis memandang perilaku penyimpangan tersebut ditinjau dari segi pola asuh, meliputi dimensi-dimensi pola asuh, jenis-jenis pola asuh, faktor-faktor yang mempengaruh pola asuh yang terkait dengan faktor-faktor penyebab penyalahgunaan Napza, antara lain faktor internal, faktor keluarga, dan faktor lingkungan teman sebaya.  Dari ketiga faktor tersebut, faktor keluargalah yang paling menentukan dalam pembentukan perilaku remaja. Maka dari itu, dengan mengambil inti permasalahan dari faktor keluarga dengan spesifikasi pola asuh serta ditinjau oleh faktor yang menyertainya, penulis meneliti pola asuh orang tua pada subjek yang menggunakan Napza.

 

1.3 Latar Belakang Penyusun

Latar belakang penyusun memilih jurnal pertama (jurnal FORMAS) yang berjudul ”Gaya Pengasuhan Orang Tua Dalam Perkembangan Anak”  dan jurnal kedua (studi kasus) yang berjudul ”Pola Asuh Orang Tua pada Subjek yang Menggunakan Napza” adalah berawal dari pencarian jurnal-jurnal nasional (berbahasa Indonesia) di mana penyusun menemukan banyak sekali jurnal yang membahas berbagai aspek, antara lain kecemasan, gizi, self regulation, proktinasi, konsep diri, kemandirian, kesehatan mental, dan banyak lagi aspek-aspek lainnya. Kemudian dari puluhan jurnal tersebut penyusun melakukan seleksi terkait judul, latar belakang, tujuan, isi, hasil dan kesimpulan yang dinilai relevan oleh penyusun meski masih terdapat kekurangan dalam segi pembahasan materi dalam jurnal terkait teori.

Dengan mempertimbangkan segi keakuratan dan keterkaitan kedua jurnal, sehingga jurnal pertama dan jurnal kedua dapat saling berhubungan dan penyusun dapat menarik benang merah dari kedua jurnal tersebut, di mana dalam pembahasan kedua jurnal penulis menemukan adanya inti-inti permasalahan yang saling memberikan sumbangsih antar keduanya, maka penyusun memprediksi bahwa dari kedua jurnal yang telah dipilih, penyusun mampu membuat suatu asumsi baru dan dari asumsi tersebut akan dapat lahir hipotesis-hipotesis lanjutan yang dapat menarik penelitian,studi kasus,analisa korelasional dan bentuk-bentuk ilmiah lainnya yang dapat diteliti,dikaji,dan dibahas secara mendalam terkait teori-teori dalam ruang lingkup studi penyusun, yakni Psikologi yang dapat tersirat dari berbagai sub-sub studi meliputi Psikologi Lintas Budaya, Psikologi Pendidikan, Psikologi Klinis, Psikologi Kepribadian, dan masih banyak sub-sub studi lainnya  yang dapat lahir dari kesimpulan yang ditarik oleh penyusun terkait dua jurnal tersebut.

Penjelasan diatas telah mendeskripsikan mengenai latar belakang penyusun memilih jurnal pertama yakni ”Gaya Pengasuhan Orang Tua Dalam Perkembangan Anak”  dan jurnal kedua (studi kasus) yang berjudul ”Pola Asuh Orang Tua pada Subjek yang Menggunakan Napza” sebagai jurnal acuan dalam melakukan review, analisis  membuat kesimpulan sehingga mampu menjelaskan secara mendalam mengenai keterkaitan antara kedua jurnal yang menciptakan suatu pandangan baru terkait aspek pola asuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Review Jurnal I

2.1.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah Penulis Jurnal I

Jurnal I : ”Gaya Pengasuhan Orang Tua Dalam Perkembangan Anak”

Rumusan masalah :

Ø  Apa peran keluarga dalam perkembangan kecerdasan emosional anak?

Ø  Bagaimana bentuk-bentuk gaya pengasuhan orang tua dan pengaruhnya terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak?

Tujuan penulisan :

Ø  Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan rinci tentang peran keluarga dalam perkembangan emosional anak.

Ø  Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan rinci tentang bentuk-bentuk gaya pengasuhan orang tua dan pengaruhnya terhadap perkembangan kecerdasan sosial emosional anak.

 

2.1.2 Analisis Masalah dan Pembahasan Penulis Jurnal I

Dari masalah yang dirumuskan pada jurnal I, dilakukan analisis peran keluarga dan bentuk-bentuk gaya pengasuhan orang tua, di mana peneliti memfokuskan pada pengaruh sub-bagian yang dikaji dari aspek-aspek orang tua dalam melakukan pengasuhan  terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak. Aspek-aspek tersebut meliputi : konsep-konsep gaya pengasuhan orangtua (peran keluarga) , bentuk-bentuk gaya pengasuhan orangtua dan pengaruhnya terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak dan sub-bagian jenis pemikiran yang terdapat dalam aspek gaya pengasuhan orang tua dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak.

 

2.2 Review Jurnal II

2.2.1 Identifikasi dan Perumusan Masalah Penulis Jurnal II

Jurnal II (studi kasus) : ”Pola Asuh Orang Tua pada Subjek yang Menggunakan Napza”

Dalam Jurnal II rumusan masalah tidak nampak dimuka, namun penyusun menyiratkan bahwa rumusan masalah yang terkandung dalam jurnal II adalah sebagai berikut :

Ø  Apakah jenis pola asuh yang digunakan oleh orang tua subjek yang menggunakan napza?

Ø  Bagaimana proses terjadinya penyalahgunaan napza?

Ø  Apa sajakah faktor-faktor penyebab penyalahgunaan napza?

Berdasar atas rumusan masalah yang ditangkap oleh penyusun di atas, maka tujuan dalam studi kasus pada jurnal II yakni :

Ø  Untuk mengetahui jenis pola asuh yang digunakan oleh orang tua subjek yang menggunakan napza

Ø  Untuk mengetahui proses terjadinya penyalahgunaan napza

Ø  Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab penyalahgunaan napza

Metode Penelitian dalam Jurnal II menggunakan metode campuran/kombinasi (multiple methods) yaitu pendekatan kualitatif sebagai pendekatan utamanya, dan metode kuantitatif sebagai komplemen yang berfungsi menyajikan data kuantitatif sebagai latar belakang, yang akan diambil skala kecil untuk diteliti. Untuk menguji hipotesis dan memberikan dasar dalam pengambilan sampel yang akan dikaji secara intensif. Subjek Penelitian yakni meliputi karakteristik subjek yakni subjek tunggal berusia 22 tahun, yang merupakan seorang mahasiswa yang menggunakan Napza. Jumlah subjek dalam penelitian studi kasus ini adalah satu orang.

 

2.2.2 Analisis Masalah dan Pembahasan Penulis Jurnal II

Pada jurnal II, studi kasus penulis mengaitkan antara pola asuh subjek pada subjek yang menggunakan Napza. Berawal dari semakin meningkatnya peran remaja yang turut andil tercatat sebagai pengguna dan pengedar Napza. Di mana remaja merupakan masa rawan dalam perkembangan usia individu terkait berbagai faktor, yakni faktor internal yakni diri subjek sendiri, kemudian faktor keluarga dan faktor teman sebaya. Berdasarkan dari faktor kelurga inilah penulis melakukan studi kasus terkait pola asuh dalam keluarga subjek yang menggunakan Napza

 

 

2.3 Kajian Teori , Analisis Masalah dan Pembahasan Jurnal oleh Penyusun

2.3.1 Kajian Teori , Analisis Masalah dan Pembahasan Jurnal I oleh Penyusun

Jurnal I : ”Gaya Pengasuhan Orang Tua Dalam Perkembangan Anak”

 

  • Peranan Orang Tua dalam keluarga

Secara tradisional, keluarga diartikan sebagai dua atau lebih orang yang dihubungkan dengan pertalian darah, perkawinan atau adopsi (hukum) yang memiliki tempat tinggal bersama. Morgan dalam Sitorus (1988;45) menyatakan bahwa keluarga merupakan suatu grup sosial primer yang didasarkan pada ikatan perkawinan (hubungan suami-istri) dan ikatan kekerabatan (hubungan antar generasi, orang tua – anak) sekaligus. Namun secara dinamis individu yang membentuk sebuah keluarga dapat digambarkan sebagai anggota dari grup masyarakat yang paling dasar yang tinggal bersama dan berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan individu maupun antar individu mereka.

 

Bila ditinjau berdasarkan Undang-undang no.10 tahun 1972, keluarga terdiri atas ayah, ibu dan anak karena ikatan darah maupun hukum. Hal ini sejalan dengan pemahaman keluarga di negara barat, keluarga mengacu pada sekelompok individu yang berhubungan darah dan adopsi yang diturunkan dari nenek moyang yang sama. Keluarga dalam hubungannya dengan anak diidentikan sebagai tempat atau lembaga pengasuhan yang paling dapat memberi kasih sayang, kegiatan menyusui, efektif dan ekonomis.

 

Di dalam keluargalah kali pertama anak-anak mendapat pengalaman dini langsung yang akan digunakan sebagai bekal hidupnya dikemudian hari melalui latihan fisik, sosial, mental, emosional dan spritual. Karena anak ketika baru lahir tidak memiliki tata cara dan kebiasaan (budaya) yang begitu saja terjadi sendiri secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi lain, oleh karena itu harus dikondisikan ke dalam suatu hubungan kebergantungan antara anak dengan agen lain (orang tua dan anggota keluarga lain) dan lingkungan yang mendukungnya baik dalam keluarga atau lingkungan yang lebih luas (masyarakat), selain faktor genetik berperan pula (Zanden, 1986;78).

 

Bahkan seperti juga yang dikatakan oleh Malinowski (1930;23) dalam Megawangi (1998;34) tentang “principle of legitimacy” sebagai basis keluarga, bahwa struktur sosial (masyarakat) harus diinternalisasikan sejak individu dilahirkan agar seorang anak mengetahui dan memahami posisi dan kedudukannya, dengan harapan agar mampu menyesuaikannya dalam masyarakat kelak setelah ia dewasa. Dengan kata lain, keluarga merupakan sumber agen terpenting yang berfungsi meneruskan budaya melalui proses sosialisasi antara individu dengan lingkungan. Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa peran orang tua adalah fungsi yang dimainkan oleh orang tua yang berada pada posisiatau situasi tertentu dengan karakteristik atau kekhasan tertentu pula.

Berdasarkan aspek yang dikaitkan dengan gaya pengasuhan dalam jurnal I yakni perkembangan anak, maka dalam melakukan tugas-tugas perkembangannya, individu banyak dipengaruhi oleh peranan orang tua tersebut. Peranan orang tua memberikan lingkungan dimana lingkungan tersebut yang memungkinkan anak dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya.

 

  • Penelitian mengenai perbandingan gaya pengasuhan demokratis dan otoriter sebagai penguat analisis penyusun terhadap pemecahan rumusan masalah pada jurnal I :

Lewin, Lippit, dan White (dalam Gerungan, 1987: 57) mendapatkan keterangan bahwa kelompok anak laki-laki yang diberi tugas tertentu di bawah asuhan seorang pengasuh yang berpola demokratis tampak bahwa tingkah laku agresif yang timbul adalah dalam taraf sedang. Kalau pengasuh kelompok itu adalah seorang yang otoriter maka perilaku agresif mereka menjadi tinggi atau justru menjadi rendah.

 

Hasil yang ditemukan oleh Lewin dkk tersebut diteruskan oleh Meuler (Gerungan, 1987: 84) dalam penelitiannya dengan menemukan hasil bahwa anak-anak yang diasuh oleh orang tua yang otoriter banyak menunjukkan ciri-ciri adanya sikap menunggu dan menyerah segala-galanya pada pengasuhnya. Watson (1967: 109), menemukan bahwa di samping sikap menunggu itu terdapat juga ciri-ciri keagresifan, kecemasan dan mudah putus asa. Baldin (dalam Gerungan, 1987: 91) menemukan dalam penelitiannya dengan membandingkan keluarga yang berpola demokratis dengan yang otoriter dalam mengasuh anaknya, bahwa asuhan dari orang tua demokratis menimbulkan ciri-ciri berinisiatif, berani, lebih giat, dan lebih bertujuan. Sebaliknya, semakin otoriter orang tuanya makin berkurang ketidaktaatan anak, bersikap menunggu, tak dapat merencanakan sesuatu, daya tahan kurang, dan menunjukkan ciri-ciri takut.

 

  • Dalam jurnal I, penulis mengenai gaya pengasuhan yang memiliki peran dalam perkembangan anak, di mana dalam aspek perkembangan di ambil berdasarkan kemampuan anak dalam bidang sosial masyarakat terkait konteks kecerdasan dengan spesifikasi perkembangan kecerdasan emosional. Dikarenakan kurangnya teori yang dikaji oleh penulis jurnal I mengenai bahasan tentang kecerdasan emosional itu sendiri, maka penyusun melakukan pendalaman materi dalam hal terebut yang diuraikan secara mendetail sehingga unsur-unsur yang belum munncul ke permukaan dapat nampak dan memperluas pengetahuan serta aspek-aspek lain terkait tujuan penulis.

 

Analisis yang lebih tajam diperlukan pada segi penyebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi itu sendiri. Goleman (1997) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi individu yaitu: (a) Lingkungan keluarga. Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi. Kecerdasan emosi dapat diajarkan pada saat masih bayi melalui ekspresi. Peristiwa emosional yang terjadi pada masa anak-anak akan melekat dan menetap secara permanen hingga dewasa. Kehidupan emosional yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna bagi anak kelak dikemudian hari. (b) Lingkungan non keluarga. Hal ini yang terkait adalah lingkungan masyarakat dan pendidikan. Kecerdasan emosi ini berkembang sejalan dengan perkembangan fisik dan mental anak. Pembelajaran ini biasanya ditujukan dalam suatu aktivitas bermain peran sebagai seseorang diluar dirinya dengan emosi yang menyertai keadaan orang lain (Goleman, 1997). Penjelasan inilah yang dirasakan kurang dilakukan pembahasan mendalam oleh penulis, sehingga penyusun akan memaparkan lebih lanjut mengenai aspek tersebut.

 

  • Pendalaman Teori dan Penelitian Terdahulu

Teori mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional dan dikaitkan dengan konsep gaya pengasuhan (pola asuh) dijelaskan oleh penyusun dijelaskan dengan teknik deskripsi sebagai berikut : Menurut Le Dove (dalam Goleman, 1997) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi antara lain:

(a) Fisik. Secara fisik bagian yang paling menentukan atau paling berpengaruh terhadap kecerdasan emosi seseorang adalah anatomi saraf emosinya. Bagian otak yang digunakan untuk berfikir yaitu konteks (kadang kadang disebut juga neo konteks). Sebagai bagian yang berada dibagian otak yang mengurusi emosi yaitu system limbic, tetapi sesungguhnya antara kedua bagian inilah yang menentukan kecerdasan emosi seseorang. (1) Konteks. Bagian ini berupa bagian berlipat-lipat kira kira 3 milimeter yang membungkus hemisfer serebral dalam otak. Konteks berperan penting dalam memahami sesuatu secara mendalam, menganalisis mengapa mengalami perasaan tertentu dan selanjutnya berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Konteks khusus lobus prefrontal, dapat bertindak sebagai saklar peredam yang memberi arti terhadap situasi emosi sebelum berbuat sesuatu. (2) System limbic. Bagian ini sering disebut sebagai emosi otak yang letaknya jauh didalam hemisfer otak besar dan terutama bertanggung jawab atas pengaturan emosi dan implus. Sistem limbic meliputi hippocampus, tempat berlangsungnya proses pembelajaran emosi dan tempat disimpannya emosi. Selain itu ada amygdala yang dipandang sebagai pusat pengendalian emosi pada otak.

(b) Psikis. Kecerdasan emosi selain dipengaruhi oleh kepribadian individu, juga dapat dipupuk dan diperkuat dalam diri individu. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi seseorang yaitu secara fisik dan psikis. Secara fisik terletak dibagian otak yaitu konteks dan sistem limbic, secara psikis meliputi lingkungan keluarga dan lingkungan non keluarga. Menurut Dinkmeyer (1965) faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi anak adalah faktor kondisi fisik dan kesehatan, tingkat intelegensi, lingkungan sosial, dan keluarga. Anak yang memiliki kesehatan yang kurang baik dan sering lelah cenderung menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menerapkan disiplin yang berlebihan cenderung lebih emosional. Pola asuh orangtua berpengaruh terhadap kecerdasan emosi anak dimana anak yang dimanja, diabaikan atau dikontrol dengan ketat (overprotective) dalam keluarga cenderung menunjukkan reaksi emosional yang negatif (Dinkmeyer, 1965).

 

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi. Dalam penelitian ini faktor yang akan diteliti adalah pola asuh orangtua yang berkaitan dengan emotion coaching yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya sebab emotion coaching yang diberikan oleh orangtua sejak dini berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak pada tahapan selanjutnya. Pendapat ini didukung oleh hasil penelitian yang dikemukakan oleh Collins dan Kuczaj (1991) bahwa parenting style (pola asuh orangtua) memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan anak.

 

  • Emotion Coaching

Dalam jurnal I penulis membahas secara sepintas mengenai bentuk-bentuk gaya pengasuhan orang tua dan pengaruhnya terhadap perkembangan kecerdasan emosional. Tersurat dalam penjelasan penulis jurnal I bahwa gaya pengasuhan orang tua pelatih emosi tidak jauh beda dengan pola asuh demokratis (dalam pola umum disebut otoritatif), di  mana disimpulkan bahwa orang tua yang menggunakan gaya pengasuhan orang tua pelatih emosi menghasilkan anak-anak yang percaya diri, mandiri, imajinatif, mudah beradaptasi, dan disukai banyak orang. Namun, tidak dipaparkan mengenai definisi pelatih emosi itu sendiri, langkah-langkah dalam penerapan emotion coaching serta hubungan emotion coaching dengan kecerdasan emosi anak. Hal ini perlu dipetakan secara jelas agar dapat diaplikasikan secara tepat sehingga memperoleh hasil yang akurat dalam penerapannya. Berikut ini pendalaman materi yang dirangkai secara berstruktur oleh Penyusun, agar informasi mengenai gaya pengasuhan orang tua yang tergolong dalam emotion coaching dapat diserap dengan baik dan bermanfaat dan berdaya ilmu yang dapat membantu orang tua dalam menerapkan gaya pengasuhan yang baik dan berkualitas sebagai bekal anak menghadapi segala permasalahan di masyarakat.

 

Definisi menurut Gottman dan DeClaire (1997) emotion coaching merupakan suatu proses dimana orangtua dengan aktif mendengarkan ungkapan perasaan anaknya, menerima perasaan anaknya serta memberikan bimbingan, batasan perilaku, dan membantu anak menyelesaikan permasalahannya agar anak dapat belajar bagaimana mengendalikan perasaan atau emosi yang dirasakannya dengan cara yang benar. Hal paling mendasar dalam emotion coaching yang perlu dimiliki oleh orangtua adalah perasaan empati yaitu kemampuan orangtua untuk menempatkan diri mereka dalam kedudukan anak mereka dan memberi tanggapan sesuai dengan situasi tersebut (Gottman & DeClaire, 1997). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa emotion coaching adalah suatu proses dimana orangtua mendengarkan dan menerima ungkapan perasaan anaknya, memberikan bimbingan serta mengajarkan kepada anaknya bagaimana mengendalikan perasaannya dengan cara yang sesuai. Emotion coaching dapat diberikan oleh orangtua untuk membantu mengembangkan kecerdasan emosi anak. Orangtua dapat melatih emosi anaknya dengan menenangkan perasaan anak, mendengarkan, memahami pemikiran dan perasaan yang dirasakan anak serta membantu anak untuk memahami dirinya sendiri.

 

Langkah-langkah dalam emotion coaching : Gottman dan DeClaire (1997) mengemukakan lima langkah dalam emotion coaching yang umumnya digunakan oleh orangtua untuk meningkatkan kecerdasan emosi anak yaitu (1) Menyadari emosi diri sendiri dan anak (Awareness), (2) Menerima emosi anak sebagai peluang untuk lebih dekat dengan mereka dan mengajarkan kepada mereka bagaimana cara mengatasinya (Acceptance), (3) Mendengarkan dengan empati dan pengertian (Empathy), (4) Membantu anak memberi label pada emosi yang sedang dirasakannya dengan kata-kata (Labeling), dan (5) Menentukan batas-batas perilaku yang boleh dilakukan anak ketika membantu anak menyelesaikan masalahnya (Problem-Solving).

 

Di bawah ini merupakan uraian penyusun mengenai 5 langkah emotion coping yang berguna untuk meningkatkan kecerdasan emosional anak secara mendalam dan spesifik :

(1)   Menyadari emosi diri sendiri dan anak (Awareness). Agar orangtua dapat merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak mereka maka terlebih dahulu orangtua harus dapat menyadari emosi dalam diri mereka sendiri dan kemudian menyadari emosi dalam diri anak-anak mereka. Orangtua yang menyadari emosi-emosi mereka sendiri dapat menggunakan kepekaan mereka untuk menyelaraskan diri dengan perasaan-perasaan anak mereka. Anak-anak sering mengungkapkan emosi mereka secara tidak langsung dan melalui cara-cara yang membingungkan orang dewasa namun jika orangtua dapat mendengarkan dengan seksama maka orangtua akan dapat memahami apa yang dirasakan oleh anak-anak.

 

(2)   Menerima emosi anak sebagai peluang untuk lebih dekat dengan mereka dan mengajarkan kepada mereka bagaimana cara mengatasinya (Acceptance). Beberapa orangtua mencoba untuk mengabaikan perasaan-perasaan negatif anaknya dengan harapan agar perasaan-perasaan negatif itu akan hilang tetapi cara seperti ini tidak dapat meredakan perasaan-perasaan negatif anak dan sebaliknya perasaan-perasaan negatif itu akan lenyap apabila anak diberi kesempatan untuk membicarakan emosi yang dirasakannya sebab dengan demikian anak akan merasa dimengerti oleh orangtuanya. Ketika anak merasa dimengerti oleh orangtuanya maka anak akan merasa lebih dekat dengan orangtuanya dan akan lebih bersikap positif terhadap cara yang dikemukakan oleh orangtuanya untuk mengatasi emosinya.

 

(3)   Mendengarkan dengan empati dan pengertian (Empathy). Agar orangtua dapat merasakan apa yang dirasakan oleh anaknya maka orangtua harus dapat menempatkan dirinya dalam kedudukan anaknya. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan empatic listening. Empatic listening merupakan proses yang paling penting dalam emotion coaching. Ketika anak mengungkapkan apa yang dirasakannya, orangtua hendaknya mendengarkan dengan empati dan penuh perhatian. Orangtua dapat mengungkapkan kembali apa yang telah diungkapkan anaknya untuk meyakinkan anak bahwa orangtua mendengarkannya dengan penuh perhatian dan mengerti akan apa yang dirasakannya.

 

(4)   Membantu anak memberi label pada emosi yang sedang dirasakannya dengan kata-kata (Labeling). Salah satu langkah dalam emotion coaching adalah membantu anak menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan apa yang sedang mereka rasakan. Misalnya orangtua memberitahu anaknya bahwa apa yang sedang dirasakan anaknya dapat disebut dengan perasaan “tegang”, “cemas”, “sakit hati”, “marah”, “sedih” atau “takut”. Hal ini dapat membantu anak menyusun kosakata yang dapat mereka gunakan untuk mengungkapkan emosi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan memberi label pada emosi yang sedang dirasakan anak dapat membantu menenangkan sistem saraf anak sehingga anak akan lebih cepat pulih dari perasaan tidak menyenangkan yang dirasakannya. Menurut Gottman hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Ketika berbicara mengenai emosi yang sedang dirasakan, aktivitas ini akan mengaktifkan belahan otak kiri yang merupakan pusat bahasa dan penalaran sehingga anak akan memfokuskan perhatiannya pada kosakata yang akan digunakannya sehingga anak tidak lagi terlalu fokus pada perasaan tidak menyenangkan yang sedang dialaminya.

 

 

(5)   Menentukan batas-batas perilaku yang boleh dilakukan anak ketika membantu anak menyelesaikan masalahnya (Problem-Solving). Gottman dan DeClaire (1997) mengemukakan beberapa tahapan dalam langkah problem-solving yaitu (a) Menentukan batas-batas perilaku yang boleh dilakukan. Orangtua boleh menerima perasaan negatif yang dirasakan oleh anaknya namun ketika anaknya mengungkapkan perasaaan negatif dengan berperilaku yang tidak sesuai seperti memukul temannya, mengejek atau merusak mainan temannya maka orangtua harus membimbing anaknya mengenai batasan perilaku yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Orangtua perlu mengajarkan kepada anaknya bahwa perasaan negatif yang dirasakannya bukanlah suatu masalah tetapi yang lebih dipermasalahkan adalah perilaku anak ketika mengungkapkan perasaan negatif tersebut. Tugas orangtua adalah memberitahu anak batas-batas perilaku yang masih boleh dilakukan dan memberi pengertian kepada anak bahwa anak berhak untuk memiliki perasaan negatif tetapi harus menggunakan cara yang benar untuk mengungkapkan perasaan negatif yang dirasakannya; (b) Menentukan tujuan (goals). Orangtua menanyakan kepada anaknya mengenai apa yang ingin dicapai ketika anak berperilaku tertentu berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi anak; (c) Memikirkan solusi lain untuk penyelesaian masalah. Orangtua hendaknya memberikan kesempatan kepada anaknya untuk memikirkan solusi permasalahannya sendiri sebelum orangtua memberikan solusi kepada anaknya. Hal ini akan membantu kemampuan anak untuk menyelesaikan permasalahannya (problem-solving). Jika solusi yang diberikan anak tidak dapat dilakukan maka orangtua sebaiknya tidak memberitahu secara langsung bahwa solusi yang dipikirkan oleh anaknya tidak dapat dilakukan sebab hal ini dapat mematahkan semangat anaknya. Sebaliknya orangtua dapat memberikan beberapa pertanyaan yang membimbing anaknya untuk memikirkan apa yang akan terjadi apabila solusi tersebut dilakukan, orangtua membiarkan anaknya menilai sendiri apakah solusinya efektif dilakukan atau tidak; (d) Mengevaluasi solusi-solusi yang diusulkan. Pada tahap ini orangtua membantu anak untuk mengevaluasi solusi-solusi yang diusulkannya dapat memecahkan masalahnya atau tidak. Orangtua dapat membantu anak untuk merenungkan setiap solusinya secara terpisah misalnya dengan mengajukan pertanyaan seperti “Apakah pemecahan ini adil?”, “Apakah pemecahan ini akan berhasil?” atau “Apakah pemecahan ini aman?”; dan (e) Membantu anak memilih solusi yang paling tepat. Anak diberikan kesempatan untuk memilih solusi yang akan dilakukannya. Ketika anak memilih solusinya, orangtua dapat menggunakan kesempatan ini untuk memberikan bimbingan serta memberitahukan pendapat-pendapatnya. Setelah anak memilih solusi yang akan dilakukannya, orangtua hendaknya membantu anak untuk merencakan tindakan yang harus dilakukannya. Ketika solusi yang dipilih anak tidak berhasil, orangtua dapat membimbing anak untuk memikirkan kembali solusi yang lain. Pada umumnya anak dapat belajar dari kesalahannya sendiri.

 

Hubungan antara emotion coaching dengan kecerdasan emosi anak : Menurut Gottman dan DeClaire (1997) emotion coaching merupakan suatu proses dimana orangtua dengan aktif mendengarkan ungkapan perasaan anaknya, menerima perasaan anaknya serta memberikan bimbingan, batasan perilaku, dan membantu anak menyelesaikan permasalahannya agar anak dapat belajar bagaimana mengendalikan perasaan atau emosi yang dirasakannya dengan cara yang benar. Ada lima langkah dalam emotion coaching yang umumnya dilakukan orangtua yaitu (1) Menyadari emosi diri sendiri dan anak (Awareness), (2) Menerima emosi anak sebagai peluang untuk lebih dekat dengan mereka dan mengajarkan kepada mereka bagaimana mengatasinya (Acceptance), (3) Mendengarkan dengan empati dan pengertian (Empathy), (4) Membantu anak memberi label pada emosi yang sedang dirasakannya dengan kata-kata (Labeling), dan (5) Menentukan batas-batas perilaku yang boleh dilakukan anak ketika membantu anak menyelesaikan masalahnya (Problem-Solving) (Gottman & DeClaire, 1997).

 

Penelitian yang dilakukan oleh Gottman dan DeClaire (1997) menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan emotion coaching memiliki tingkat kecerdasan emosi yang tinggi. Anak-anak yang telah terlatih ini memiliki lebih banyak kemampuan dalam bidang emosi mereka sendiri dibandingkan dengan anak-anak yang kurang dilatih oleh orangtua mereka. Kemampuan-kemampuan ini meliputi kemampuan untuk mengendalikan keadaan emosional mereka sendiri. Anak-anak ini lebih terampil dalam menenangkan diri mereka sendiri ketika mereka marah dan lebih terampil dalam memusatkan perhatian. Mereka berhubungan lebih baik dengan orang lain, lebih memahami orang lain, memiliki persahabatan yang lebih baik dengan orang lain (Gottman & DeClaire, 1997).

 

Di samping itu anak-anak yang orangtuanya secara mantap mempraktekkan emotion coaching memiliki kesehatan fisik yang lebih baik serta memperoleh nilai yang lebih tinggi secara akademis bila dibandingkan dengan anak-anak yang orangtuanya tidak secara mantap memberikan emotion coaching. Anak-anak ini bergaul lebih baik dengan teman-temannya, tidak banyak mengalami masalah tingkah laku, dan tidak mudah melakukan tindakan kekerasan. Pada umumnya anak-anak yang dilatih emosinya mengalami perasaan negatif yang lebih sedikit dan lebih sehat secara emosional (Gottman & DeClaire, 1997).

 

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Gottman dan DeClaire (1997) yaitu ketika orangtua menggunakan bentuk pengasuhan anak seperti pelatih, anak-anak menjadi lebih kenyal. Anak-anak yang orangtuanya memberikan emotion coaching masih akan mengalami kesedihan, marah, atau takut dalam keadaan-keadaan yang sulit namun mereka lebih mampu menenangkan diri mereka sendiri, bangkit kembali dari kemurungan, dan melanjutkan kegiatan-kegiatan yang produktif. Anak-anak yang orangtuanya melakukan emotion coaching dapat dikatakan lebih cerdas secara emosional (Gottman & DeClaire, 1997).

 

2.3.2 Kajian Teori , Analisis Masalah dan Pembahasan Jurnal II oleh Penyusun

Jurnal II (studi kasus) : ”Pola Asuh Orang Tua pada Subjek yang Menggunakan Napza”

  • Peranan keluarga (orang tua) dalam kajian aspek sosial dalam masyarakat

Dalam jurnal II, penulis telah dibahasi secara mendalam mengenai peranan orang tua dalam  kajian aspek internal yakni ruang lingkup keluarga. Maka dari itu penyusun mencoba mendalami pengkajian teori dipandang dari konteks sosial di mana dalam aspek tersebut, sangat erat kaitannya antara dampak pola asuh dengan karakter penyesuaian seseorang dalam bermasyarakat, yang mengambil andil yang sangat dominan ditinjau dari proses adaptasi seseorang terhadap lingkungan sosialnya, cara melakukan intervensi (respon antisipasi) terhadap stimulus negatif yang tidak diinginkan, membatasi dan mengetahui konteks benar dan salah berdasarkan atas norma hukum dan norma-norma yang berlaku di  masyarakat, serta masih banyak lagi bagian dari konteks sosial yang mengambil peranan penting terhadap perilaku seseorang (dalam studi meneliti : remaja).

 

Perlu diingat bahwa keluarga merupakan suatu sistem yang terdiri atas elemen-elemen yang saling terkait antara satu dengan lainnya dan memiliki hubungan yang kuat. Oleh karena itu, untuk mewujudkan satu fungsi tertentu bukan yang bersifat alami saja melainkan juga adanya berbagai faktor atau kekuatan yang ada di sekitar keluarga, seperti nilai-nilai, norma dan tingkah laku serta faktor-faktor lain yang ada di masyarakat. Sehingga di sini keluarga dapat dilihat juga sebagai subsistem dalam masyarakat (unit terkecil dalam masyarakat) yang saling berinteraksi dengan subsistem lainnya yang ada dalam masyarakat, seperti sistem agama, ekonomi, politik dan pendidikan; untuk mempertahankan fungsinya dalam memelihara keseimbangan sosial dalam masyarakat.

 

Untuk menciptakan ketertiban sosial diperlukan suatu struktur yang dimulai dalam keluarga. Plato mengibaratkannya seperti tubuh manusia, yang terdiri atas tiga bagian yaitu, kepala (akal), dada (emosi dan semangat) dan perut (nafsu) yang memperlihatkan hirarki dan struktur dalam tubuh organik manusia itu sendiri, dimana masing-masing individu akan mengetahui di mana posisinya dan mampu menjalankan fungsi-fungsi yang diembannya melalui pembagian kerja (division of labor) patuh pada sistem nilai yang melandasi sistem tersebut (Plato dalam Megawangi, 1999;48).

 

Terdapat  tiga elemen utama dalam struktur internal keluarga, yaitu 1) status sosial, dimana dalam keluarga terdiri dari tiga struktur utama, yaitu bapak/suami, ibu/istri dan anak-anak. Sehingga keberadaan status sosial menjadi penting karena dapat memberikan identitas kepada individu serta memberikan rasa memiliki, karena ia merupakan bagian dari sistem tersebut, 2) peran sosial, yang menggambarkan peran dari masing-masing individu atau kelompok menurut status sosialnya dan 3) norma sosial, yaitu standar tingkah laku berupa sebuah peraturan yang menggambarkan sebaiknya seseorang bertingkah laku dalam kehidupan sosial.

 

  • Penjelasan lebih dalam tentang jenis-jenis pola asuh berdasarkan acuan jurnal

Dalam jurnal II dijelaskan mengenai jenis-jenis pola asuh hanya dengan beberapa kalimat yang kurang memberikan pengertian mengenai jenis pola asuh itiu sendiri. Pada bagian ini penyusun menjabarkan jenis-jenis pola asuh sebagaimana yang digunakan oleh penulis jurnal II yakni jenis pola asuh otoriter, otoritatif, dan permisif yang dilengkapi dengan terapan remaja (konteks penulis atas kriteria subjek) dalam bermasyarakat, berbagai pandangan ahli, dan tipikal pola asuh.

 

Ø  Gaya Pola asuh autoritarian  (Authoritarian parenting style)

Pola asuh orangtua yang autoritarian adalah orangtua yang memberikan batasan-batasan tertentu dan aturan yang tegas terhadap anaknya, tetapi memiliki komunikasi verbal yang rendah. Pola asuh ini merupakan cara yang membatasi dan bersifat menghukum sehingga anak harus mengikuti petunjuk orangtua dan menghormati pekerjaan dan usaha orangtua. Contoh orangtua yang authoritarian akan berkata : “Kamu melakukan hal itu sesuai dengan cara saya atau orang lain“. Dalam hal ini nampak sekali orangtua bersikap kaku dan banyak menghukum anak-anak mereka yang melanggar, karena sikap otoriter orangtua. Biasanya pola asuh ini memiliki kontrol yang kuat, sedikit komunikasi, membatasi ruang gerak anak, dan berorientasi pada hukuman fisik maupun verbal agar anak patuh dan taat. Ada ketakutan yang tinggi dalam diri orangtua terhadap anaknya karena adanya pertentangan dalam kemauan dan keinginan. Jadi anak-anak ini sering sekali tidak bahagia, ketakutan dan cemas dibandingkan dengan anak lain, gagal memulai suatu kegiatan, menarik diri karena tidak puas diri dan memiliki ketrampilan komunikasi yang lemah.

 

Ø  Gaya Pola asuh  permisif   (Permisive parenting style)

Pola asuh permisif menekankan ekspresi diri dan self regulation anak. Orangtua yang permisif membuat beberapa aturan dan mengijinkan anak-anaknya untuk memonitor kegiatan  mereka sebanyak mungkin. Ketika mereka membuat peraturan biasanya mereka menjelaskan  alasan dahulu,orang tua berkonsultasi dengan anak tentang keputusan yang diambil dan jarang menghukum. Maccoby dan Martin (1983) menambahkan tipologi ini karena adanya tingkat tuntutan orang tua dan tanggapan yang ada. Dengan demikian  pola asuh permisif terdiri dari dua jenis yaitu :

A. Pola asuh permisif yang penuh kelalaian (Permisive-neglectfull  parenting).

Pada pola ini orangtua sangat tidak ikut campur dalam kehidupan anaknya. Orangtua yang seperti ini tidak akan pernah tahu keberadaan anak mereka dan tidak cakap secara sosial, padahal anak membutuhkan perhatian orang tua ketika mereka melakukan sesuatu. Anak ini biasanya memiliki self esteem yang rendah, tidak dewasa dan diasingkan dalam keluarga. Pada masa remaja mereka mengalami penyimpangan-penyimpangan perilaku, misalnya suka tidak masuk sekolah, kenakalan remaja. Dengan demikian anak menunjukkan pengendalian diri yang buruk dan tidak bisa menangani kebebasan dengan baik. Jadi orangtua yang tidak menuntut ataupun menanggapi menunjukkan suatu pola asuh yang neglectful atau uninvolved. Orangtua ini tidak memonitor perilaku anaknya ataupun mendukung ketertarikan mereka, karena orang tua sibuk dengan masalahnya sendiri dan cenderung meninggalkan tanggung jawab mereka sebagai orang tua .

B. Pengasuhan permisif yang Pemurah  (Permisive-indulgent parenting).

Pada pola ini orangtua sangat terlibat dengan anaknya tetapi sedikit sekali menuntut atau mengendalikan mereka. Biasanya orangtua yang demikian akan memanjakan, dan mengizinkan anak untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Gaya pola asuh ini menunjukkan bagaimana orangtua sangat terlibat dengan anaknya, tetapi menempatkan sedikit sekali kontrol pada mereka. Hal ini berkaitan dengan ketidakmampuan sosial, terutama dalam kontrol diri. Jadi gaya pola asuh permisif indulgent, orangtua memiliki tuntutan rendah dan tanggapan terlibat tinggi pada anak. Orangtua ini toleran, hangat dan menerima. Mereka menunjukkan sedikit otoritas, dan membiarkan terbentuknya self-regulation pada anak atau remaja.

Pola asuh permisif mengutamakan kebebasan, dan anak diberikan kebebasan penuh untuk mengungkapkan keinginan dan kemauannya dalam memilih. Pada dasarnya orangtua dalam pola ini akan menuruti kehendak anak, dan kerangka pemikiran psikoanalitis melandasi pandangan orangtua yang memandang bahwa setiap manusia dilahirkan sudah memiliki kebutuhan dasar pribadi yang menuntut untuk dipenuhi. Oleh karena itu apabila tuntutan ini tidak dipenuhi maka akan terjadi halangan perkembangan dan timbul penyimpangan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pandangan liberal ini berkembang di Inggris, yang dikembangkan oleh Neill (1960) dia menyarankan supaya anak sebaiknya diberikan kebebasan penuh untuk melakukan apa yang menjadi keinginannya. Jika anak berbuat kesalahan, maka orang tua tidak perlu ikut serta untuk memperbaikinya tetapi cukup hanya membiarkan saja supaya anak itu memperbaiki sendiri dirinya sendiri. Faham ini memandang bahwa seorang anak secara alamiah telah memiliki suatu kemampuan untuk dapat mengurus dan mengatur dirinya sendiri, sehingga orang lain tidak perlu ikut campur tangan. Dari perkembangan liberal yang ada kemudian berkembang konsep baru dari Rogers dimana menyarankan supaya anak diasuh dengan campur tangan yang sesedikit mungkin dari orang tua maupun dari lingkungan.

Pola asuh orang tua permisif bersikap terlalu lunak, tidak berdaya, memberi kebebasan terhadap anak tanpa adanya norma-norma yang harus diikuti oleh mereka. Mungkin karena orang tua sangat sayang (over affection) terhadap anak atau orangtua kurang dalam pengetahuannya. Pola asuh demikian ditandai dengan nurturance yang tinggi, namun rendah dalam tuntutan kedewasaan, kontrol dan komunikasi, cenderung membebaskan anak tanpa batas, tidak mengendalikan anak, lemah dalam keteraturan hidup, dan tidak memberikan hukuman apabila anak melakukan kesalahan, dan tidak memiliki standart bagi perilaku anak, serta hanya memberikan sedikit perhatian dalam  membina kemandirian dan kepercayaan diri anak.

 

Ø  Gaya Pola asuh autoritatif  (Autoritative Parenting style)

Pola asuh yang bergaya autoritatif mendorong anak untuk bebas tetapi tetap memberikan batasan dan mengendalikan tindakan-tindakan mereka. Adanya sikap orangtua yang hangat dan bersifat membesarkan hati anak, dan komunikasi dua arah yang bebas membuat anak semakin sadar dan bertanggung jawab secara sosial. Hal ini disebabkan karena orang tua dapat merangkul dan mencarikan alasan untuk solusi di masa depan. Contoh sikap orangtua yang autoritative : ”Kamu tahu bahwa kamu seharusnya tidak melakukan hal itu, tetapi sekarang mari kita diskusikan bersama bagaimana bisa mengatasi situasi tersebut dengan lebih baik di masa depan”. Sebenarnya pola asuh ini merupakan gabungan dari kedua pola asuh yaitu pola asuh autoritarian dan permisif.

Dalam pola asuh ini dipandang bahwa kebebasan pribadi untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya baru bisa tercapai dengan sempurna apabila anak mampu mengontrol dan mengendalikan diri serta menyesuaikan diri dengan lingkungan baik keluarga dan masyarakat. Dalam hal ini anak diberi kebebasan namun dituntut untuk mampu mengatur dan mengendalikan diri serta menyesuaikan diri dan keinginannya dengan tuntutan lingkungan. Oleh karena itu sebelum anak mampu mengatur dan mengendalikan dirinya sendiri, maka dalam dirinya perlu ditumbuhkan perangkat aturan sebagai alat kontrol yang dapat mengatur dan mengendalikan dirinya sesuai dengan aturan yang berlaku di lingkungannya.

Pengontrolan dalam hal ini, walaupun dalam bentuk apapun hendaknya selalu ditujukan supaya anak memiliki sikap bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan terhadap lingkungan masyarakat. Dengan demikian anak itu akan memiliki otonomi untuk melakukan pilihan dan keputusan yang bernilai bagi dirinya sendiri dan bagi lingkungannya. Dalam hal ini perlu disadari bahwa kontrol yang ketat harus diimbangi dengan dorongan kuat yang positif agar individu tidak hanya merasa tertekan tetapi juga dihargai sebagai pribadi yang bebas. Komunikasi antara orang tua dengan anak atau anak dengan orang tua dan aturan intern keluarga merupakan hasil dari kesepakatan yang telah disetujui dan dimengerti bersama.

Untuk hal ini Baumrind (1978) menekankan bahwa dalam pengasuhan autoritatif mengandung beberapa prinsip : pertama, kebebasan dan pengendalian merupakan prinsip yang saling mengisi, dan bukan suatu pertentangan. Kedua, hubungan orang tua dengan anak memiliki fungsi bagi orang tua dan anak. Ketiga, adanya kontrol yang diimbangi dengan pemberian dukungan dan semangat. Keempat, adanya tujuan yang ingin dicapai yaitu kemandirian, sikap bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan tanggung jawab terhadap lingkungan masyarakat.

 

2.4 Pendalaman Analisis Jurnal oleh Penyusun

2.4.1 Analisis Perbandingan Jurnal I dan Jurnal II

Jika dibandingkan, kedua jurnal memiliki konteks yang serupa terkait hubungan dan perilaku sosial. Namun , jika dilihat dari segi hasil, maka jurnal I memiliki tingkat relevansi yang lebih tinggi dibandingkan dengan jurnal II. Mengapa demikian? Penyusun memberikan penalaran sedemikian rupa berdasarkan atas tinjauan dari berbagai faktor, meliputi judul, latar belakang,rumusan masalah, tujuan, isi, pembahasan, hasil, kesimpulan, dan referensi. Pada jurnal I, alur mulai dari latar belakang hingga kesimpulan berjalan secara berkesinambungan tanpa cabang sehingga proses analisa dapat menjadi lebih fokus dan cermat dalam pengamatan konsep yang disajika .

Meski pada jurnal I penyusun berpendapat bahwa pemilihan judul jurnal tersebut kurang tepat, namun akan lebih fatal lagi jika hasilnya tidak dapat mencerminkan  apa yang dikaji pada bagian pembahasan yang terjadi pada jurnal II. Mengingat konteks yang  digunakan adalah pola asuh, maka akan lebih relevan jika penulis jurnal II lebih menitikberatkan pada pengaruh pola asuh itu sendiri terhadap perilaku remaja (konteks yang digunakan penulis jurnal) sehingga pada bagian kesimpulan tidak memaparkan hasil yang serupa dengan teori pada pembahasan, yang sedikit menyimpang dari judul studi kasus. Ditambah penulis jurnal II yang dengan sangat kaku menggeneralisasikan hasil studi kasusnya yang hanya menggunakan seorang subjek  dalam penelitian yang dilakukan. Hal ini disesalkan  mengingat judul yang dirasakan penyusun sangat bersifat general namun ternyata kesimpulan dan hasil yang diperoleh hanya berpatokan pada kasus satu orang subjek pengguna Napza. Itupun tidak diterangkan secara mendetail dan hanya ditinjau dari konteks sosial secara garis besar.

Maka dari itu, penyusun memiliki atensi lebih terhadap jurnal I  di mana berdasarkan  keseluruhan isinnya, pesan dan informasi penulis mengenai aspek gaya pengasuhan orang tua dalam perkembangan anak dapat tersalurkan dengan cukup baik serta mampu memancing pemikiran untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait aspek lainnya,ataupun aspek yang sama dengan pendekatan yang berbeda.

 

2.4.2 Analisis Hubungan Jurnal I dan Jurnal II

Kemungkinan hubungan terkait analisis penyusun terhadap jurnal I dan jurnal II dipetakan berdasarkan peta hubungan konsep seperti berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada bagan/ peta konsep berdasarkan analisis penyusun di atas, dapat dijelaskan bahwa aspek kecerdasan emosional anak akan berkembang selama masa remaja hingga masa dewasa, Dalam konteks remaja tersebutlah akan dapat dikaitkan kembali dengan perilaku kenakalan remaja yang berpatokan pada analisis hubungan interpersonal dan sosial masyarakat dimana dalam berinteraksi dan beradaptasi, remaja yang berada dalam kondisi tengah mencari jati dirinya, labil, dan ingin mencoba hal yang baru erat kaitannya dengan kecerdasan emosionalnya.

Di mana berbagai sub-aspek dari kecerdasan emosional itu sendiri akan berpengaruh dominan terhadap keputusan – keputusan remaja dalam  mengatasi suatu masalah dan gejolak dalam dirinya, baik itu ditinjau dari faktor internal, di mana remaja mampu melakukan kontrol diri dan kontrol emosi dalam menyikapi berbagai peristiwa yang terjadi disekitarnya. Kemudian faktor teman sebaya, yang dalam proses adaptasi remaja yang memiliki kecerdasan emosional tinggi tidak akan mudah terpengaruh serta daya pikirnya akan baik buruknya suatu perilaku, serta dampak yang terjadi pada dirinya bila ia melakukan hal yang tidak ia pikirkan dengan matang, sehingga peran kecerdasan emosional sangat memiliki andil dalam melakukan pertimbangan terdahulu, tidak emosional dalam bertindak dan mampu mengetahui baik-buruknya suatu tindakan. Kemudian dari faktor lingkungan dan masyarakat, yang dapat dilakukan analisis hubungan yakni mengenai konteks norma-norma hukum dan masyarakat yang memerlukan kecerdasan emosional di dalamnya untuk mencerna peraturan dan mengetahui akibat dari perilaku yang akan dimunculkan remaja itu sendiri.

Dari segi keseluruhan, di mana kedua jurnal dapat saling dihubungkan dan merupakan suatu pemahaman tinggi jika penyusun dapat lebih dalam melakukan pencarian sub-faktor lainnya, dalam konteks pola asuh yang mempengaruhi kecerdasan emosional anak yang akan tumbuh menjadi remaja, di mana pada masa ini seseorang mulai terbuka matanya terhadap kehidupan sekitarnya yang memberikan pengaruh entah it positif atau negatif yang kemudian kembali lagi terkait faktor kecerdasan emosional individu dalam mencerna stimulus-stimulus yang ia dapatkan dari banyak pihak, di mana remaja dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan mampu menyaring stimulus-stimulus tersebut dan menggunakan daya pikirnya untuk memuncukan respon yang tepat yang diharapkan dapat  menunjang perkembangan psikososialnya terkait atau terlepas dari konsep budaya.

 

2.4.3 Analisis Keseluruhan Aspek Jurnal I dan Jurnal II Terkait Budaya

Jurnal I : ”Gaya Pengasuhan Orang Tua Dalam Perkembangan Anak”

Jurnal II (studi kasus) : ”Pola Asuh Orang Tua pada Subjek yang Menggunakan Napza”

 

Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu di antaranya ialah mengasuh putra-putrinya. Dalam mengasuh anaknya orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. Di samping itu, orang tua juga diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda, karena orang tua mempunyai pola pengasuhan tertentu.

 

Konteks budaya di sini jika dikaitkan dengan kedua jurnal dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, baik dari daerah dilakukannya studi kasus pada jurnal II, kemudian dari FORMAS yang memandang segi gaya pengasuhan atau dalam cakupan lebih luas yakni negara Indonesia. Sebagaimana dijelaskan dalam kedua jurnal di mana keduanya penyusun ambil sengaja berasal dari negara Indonesia, mengingat analisis ini diperlukan sebagai pedoman masyarakat negara kita sendiri.

 

Terkait gaya pengasuhan yang cocok digunakan untuk budaya negara kita, yang tercantum pada kedua jurnal adalah pola asuh demokratis yang cenderung dikelompokkan dalam pola asuh otoritatif, gaya pengasuhan orang tua pelatih emosi. Hal ini berbeda dengan negara lain, salah satunha negara China yang lebih menitikberatkan kepada pola asuh otoriter sebagai karakteristik yang tepat diterapkan demi kemajuaan negaranya.

 

Hal ini juga dapat ditinjau dari budaya lingkungan sekitar, yakni tempat tinggal, di mana dalam studi kasus jurnal II, subjek bertempat tinggal di lingkungan yang terkenal dengan lingkungan basis narkoba (sarang narkoba)

Jadi, dalam mengaitkan pola asuh dengan budaya tidak perlu berdasar atas perbedaan yang sepandang mata yang pada umumnya mengaitkan syudi lintas-budaya dengan lintas-negara.

 

Dari tahap review, analisis, hingga kesimpulan mengenai keterkaitan kedua jurnal ini, penyusun mendapatkan pemahaman bahwa tidak perlu  melihat secara lintas-negara untuk mengaitka suatu aspek psikologis dengan budaya. Justru dari sudut pandang negara kita sendiri masih dapat dikupas dan digali lebih dalam terkait budaya yang dihasilkan dan pengaruhnya terhadap perilaku masyarakat. Tentunya analisis dalam konteks dalam negeri akan lebih berperanan penting dan menghasilkan manfaat serta dampak positif bagi kemajuan negara, mengingat aspek budaya diperoleh dari lingkup terkecil dari suatu masyarakat, yakni keluarga.

 

Maka dari itu banyak penelitian yang menggunakan pola asuh dalam keluarga sebagai salah satu aspek pengaruh dalam memprediksi tingkah laku yang dihasilkan dan  dikaitkan dnegan budaya setempat. Penyusun sangat merasakan manfaat dari tugas yang diberikan, karena penyusun telah mendapatkan suatu bonus (nilai tambahan) tersendiri dan dipastikan akan menjadi bekal yang sangat diperlukan dalam melakukan penelitian maupun proses pembuatan skripsi nantinya.

 

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan dan Saran Penulis Jurnal

3.1.1 Kesimpulan dan Saran Penulis Jurnal I

Kesimpulan penulis dalam jurnal satu yakni mengenai gaya pengasuhan orang tua yang merupakan faktor terpenting dalam mempengaruhi tingkat kecerdasan emosional anak. Bentuk gaya pengasuhan orang tua yang mempengaruhi kecerdasan emosional anak dan kepribadian secara umum, adalah melalui gaya pengasuhan yang demokratis dan orang tua yang tergolong pelatih emosi yang memungkinkan menghasilkan anak-anak yang percaya diri, mandiri, imajinatif, mudah beradaptasi dan disukai banyak orang. Di mana anak-anak yang mendapatkan gaya pengasuhan yang demokratis dan menekankan pelatihan emosi umumnya cenderung memperoleh nilai akademik yang lebih tinggi, bergaul lebih baik dengan teman-temannya, tidak banyak mengalami masalah perilaku dan tidak gampang melakukan tindakan kekerasan. Orang tua yang terampil secara emosional, dapat  membantu anak dnegan memberi dasar keterampilan emosional.

 

3.1.2 Kesimpulan dan Saran Penulis Jurnal II

Kesimpulan yang bisa didapat dari jurnal II dibagi dalam 3 bagian. Yang pertama, didapatkan bahwa pola asuh remaja pengguna Napza adalah permisif, hal tersebut ditinjau penulis terdiri dari 4 faktor, antara lain kendali orang tua (control), kejelasan komunikasi orang tua (clarity of parent child communication), tuntutan kedewasaan, dan kasih sayang. Yang kedua, yakni kesimpulan mengenai proses terjadinya penyalahgunaan Napza, antara lain melalui teman sebaya dan melalui lingkungan sekitar. Yang ketiga, kesimpulan berdasar atas faktor-faktor penyebab penyalahgunaan Napza meliputi faktor internal, faktor keluarga, dan faktor teman sebaya.

 

 

 

 

 

3.2 Kritik dan Saran Penyusun Terhadap Penulis Jurnal I

Jurnal I : ”Gaya Pengasuhan Orang Tua Dalam Perkembangan Anak”

Dari awal terlihat dari segi pemilihan kalimat penulis untuk dijadikan judul penulisan dirasakan penyusun kurang tepat dan kurang mencerminkan spesifikasi isi dari jurnal/tulisan kajian ilmiah penulis itu sendiri. Mengingat kriteria judul harus mencerminkan secara garis besar isi dari apa yang ingin disampaikan oleh penulis,terkait penyampaian informasi dan pengetahuan. Sementara itu, judul yang dipilih penulis terutama bagian perkembangan anak di mana perkembangan anak merupakan pilihan kata yang sangat umum, karena aspek perkembangan anak terbagi menhjadi beberapa sub-tipe perkembangan yang sangat berbeda namun terkait antara satu dan yang lainnya. Hal ini perlu dijelaskan oleh penulis, disertai pandangan dan alasan penulis memilih konteks perkembangan anak yang diperdalam justru dari segi kecerdasan emosional anak (perkembangan kecerdasan emosional anak) yang disajikan terpatah-patah tanpa menjelaskan definisi tipe dari sub-tipe yang digunakan oleh penulis (misalnya : definisi emosi) ini dapat menimbulkan kesalahan tafsir yang akan berdampak kurang baik bagi kedua belah pihak.

 

Kurang mengaitkan dengan jurnal terdahulu atau  penelitian-penelitian sebelumnya. Definisi operasional terlalu sempit, kurang menggali sub-bagian dari aspek-aspek digunakan sebagai variabel penelitian, sehingga manfaat dan penyampaian informasi kurang maksimal yang dapat menyebabkan ambiguitas dan ketidakakuratan dalam segi penerapan gaya pengasuhan yang disarankan, mengingat prosedurnya tidak terpaparkan dengan spesifik. Hal tersebut menimbulkan kesulitan pemahaman konteks terkait tujuan yang ingin dicapai oleh penulis jurnal I. Pengaturan tata bahasa yang kaku dan kurang fleksibel perlu dilakukan revisi guna meningkatkan mutu penulisan sehingga pesan penulis jurnal I yang tersirat dapat tersampaikan dengan baik. Kemudian penggunaan istilah ”disparitas fenomena” yang dirasa penyusun perlu untuk mendefinisikan arti dari istilah tersebut dikarenakan penelitian ini tidak hanya diperuntukkan bagi kalangan berpendidikan, namun juga untuk masyarakat awam.

 

 

3.3 Kritik dan Saran Penyusun Terhadap Penulis Jurnal II

Jurnal II (studi kasus) : ”Pola Asuh Orang Tua pada Subjek yang Menggunakan Napza”

Penulis tidak menjelaskan secara spesifik mengenai orang tua subjek tunggal, di mana aspek pendidikan orang tua memiliki andil yang sangat penting dalam pengaruhnya terhadap perilaku sosial subjek terkait aspek pola asuh.  Penulis hanya menerangkan mengenai kelas sosial dan hal lainnya dan itu kurang cukup untuk melakukan analisa secara mendalam guna memperoleh hasil yang akurat.

 

Sebagaimana tersurat dalam jurnal II  bahwa metode penelitian studi kasus yang dilakukan menggunakan metode kualitatif sebagai metode utama, namun penyusun tidak menemukan adanya pendalaman teori  mengenai beberapa sub-bagian dalam berbagai aspek yang dibahas di dalamnya. Sehingga informasi terbatas dan sumber referensi kurang memenuhi kriteria dalam melakukan suatu studi kasus. Analisa yang dilakukan penulis kurang tajam, dikarenakan minimnya teori dan aplikasi serta penjelasan mengenai hasil studi-studi terdahulu (perbandingan dengan penelitian sebelumnya).

 

Subjek penelitian dalam studi kasus (jurnal II) hanya menggunakan satu orang subjek. Dalam hal ini penyusun menilai terlalu cepatnya penulis dalam melakukan generalisasi terkait penelitian studi kasus yang dilakukan, tanpa adanya hasil-hasil temuan lainnya yang mendukung. Merupakan kesalahan yang cukup fatal jika melakukan generalisasi dini mengingat skala subjek yang teramat kecil dan judul studi kasus yang kurang dipertegas. Hal tersebut dapat menimbulkan kesalahan persepsi bagi orang awam yang belum mengenal jauh perihal aspek-aspek yang ditinjau dan diukur.

 

Demikian pula dengan penjelasan mengenai metode kualitatif itu sendiri, di mana diperlukan kejelasan mengenai tahap-tahap dalam mendapatkan data, meski merupakan suatu studi kasus namun penjelasan tentang prosedur pelaksanaan penelitian meliputi observasi subjek, wawancara subjek, keterkaitan observer dengan subjek, daerah asal subjek, prestasi subjek yang sangat penting dipaparkan untuk dapat menganalisis hal-hal yang diteliti serta guna memperoleh informasi yang lebih bermanfaat bagi peneliti selanjutnya. Setara halnya dengan tidak adanya pencatuman mekanisme perolehan data secara spesifik, sehingga penyusun sulit untuk membuka pemikiran penulis dan tujuan dilaksanakannya studi kasus dalam aplikasi secara keseluruhan.

Jika penulis lebih mampu untuk melakukan eksplorasi mendalam, sehingga terbuka pada penelitian serupa dengan pengamatan yang berbeda, misalkan dipandang dari aspek kelekatan (attachment) , maka studi kasus ini akan lebih memperoleh hasil yang lebih akurat.

Penggunaan istilah ekstrovert dan introvert yang hanya sepintas lalu dapat memicu ambiguitas karena tidak ada pemaparan lebih lanjut. Hal ini banyak ditemukan oleh penyusun dan diperlukan adanya perbaikan serta pengkajian yang lebih berdasar teori serta aplikasi terkini dalam  masyarakat terkait konteks penggunaan Napza dikalangan remaja. Maka dari itu diperlukan perbandingan-perbandingan tidak hanya dengan kasus sejenis, namun bisa ditinjau dari kasus serupa yang berbeda jenis. Dengan begitu studi dinilai lebih kaya dan memberikan sumbangsih maksimal kepada masyarakat, tentunya dengan penggunaan bahasa yang umum, yang mampu dicerna sehingga studi ini berguna bagi seluruh kalangan masyarakat dan dapat dikembangkan dari waktu ke waktu. Peranan studi kasus terdahulu begitu penting yang tidak dibahas oleh penulis sehingga studi kasus ini hanya semata-mata mengetahui hal-hal yang sudah sepantaran terbuka dan tidak mampu mengupas hal-hal relevan yang memunculkan suatu informasi baru.

Studi berdasarkan suatu kasus memerlukan adanya tinjauan secara berkala, guna mengetahui perkembangan tingkat korelasi ataupun tingkat pengaruh dari aspek-aspek yang diuji dalam penelitian. Penulis hanya berpacu pada suatu konsep tidak melakukan suatu perbandingan terhadap faktor eksternal kasus yang dapat membantu penulis menemukan esensi dari studi kasus dan penelitian yang dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: